"Dulu memasuki musim hujan, hati senang dan gembira," ujar Staf Khusus Presiden Andi Arief baru-baru ini.
Menurut Staf Khusus Prsiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) itu dalam15 tahun terakhir ada suasana yang berubah dalam menyambut musim hujan, khususnya di Jakarta.
"Kini hujan identik dengan ketakutan. Bahkan hujan menjadi isu politik. Luar biasa. Ini ironi di negara dua musim. Di berbagai daerah ada banjir. Tapi tak serumit di Jakarta dimana setiap memasuki musim hujan datanglah ketakutan," kata dia lagi.
Andi juga mengatakan dirinya berdiskusi dengan beberapa pakar bencana. Dan kesimpulan dari berbagai diskusi itu adalah: banjir yang khususnya terjadi di Jakarta sudah tidak lagi dikategorikan sebagai bencana.
"Sebab yang namanya bencana itu datang tak terukur, tak terdeteksi dan tiba-tiba," kata Andi Arief.
"Banjir Jakarta adalah wajah kita sesungguhnya yang tak mau berubah dan beradaptasii dengan hujan dan air. Tipe banjir Jakarta bukan tipe banjir yang trjadi tiba-tiba seperti banjir bandang."
Menurut Andi Arief, bencana yang sesungguhnya bagi Jakarta adalah jika
seismic gap di Selat Sunda mengeluarkan Megathrust dengan kekuatan 8,9 atau 9,2 SR.
Hal ini sudah beberapa kali disampaikan Andi Arief sebelumnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: