Menurut Sutrisno memberi contoh, di Hari Sumpah Pemuda ini, ada sekitar 1.000 siswa di SMAN I Majalengka memainkan angklung raksasa. Angklung ini dibuat oleh siswa sendiri, dengan menggunakan bahan kayu bambu yang juga asli ditanam dan tumbuh di Majalengka. Sebagai strategi kebudayaan, ada dua target di balik pentas angklung ini.
"Pertama, sebagai bagian dari cara untuk menarik wisatawan ke Majalengka. Hal ini untuk menjawab pertanyaan, setelah Majalengka punya bandara, lalu ada wisatawan datang, lalu apa yang bisa dilihat dari Majalengka. Nah, kita kembangkan kebudayaan kita sendiri," kata Bupati Majelangka, Sutrisno, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 28/10).
Target kedua, laut Sutrisno, adalah sebagai cara dan strategi untuk menangkal budaya asing yang negatif, terutama budaya Barat. Dan strategi ini juga integral dengan upaya membangun karakter bangsa.
Politisi PDI Perjuangan ini juga mengatakan bahwa dalam lima tahun ke depan, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, ia bukan hanya akan menjadikan Majalengka sebagai kota agraris, namun juga akan terus mengembangkan sektor jada dan industri. Sebab di era global ini, sektor jasa dan industri menjadi sangat penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi.
"Lihat saja Singapura, yang tidak punya apa-apa, tapi eknominya berkembang pesat karena berhasil dengan kebijakan di sektor jasa dan industrinya," demikian Sutrisno.
[ysa]
BERITA TERKAIT: