Kemerosotan moral ini, ujar Rektor Seminari Menengah St. Petrus Canisius itu dalam sebuah diskusi di Semarang tahun lalu terjadi karena sistem pendidikan memiliki orientasi membuat orang menjadi pandai, bukan menjadi orang yang baik.
Selain itu, budaya malu juga sudah hilang, sementara budaya konsumtif tumbuh subur.
"Kebudayaan lokal kini kurang dihargai. Padahal dari budaya itulah kita belajar banyak hal mulai dari bagaimana merasakan, berpikir, hingga bagaimana bertindak," ujar Romo Maryo ketika itu.
Romo Maryo meninggal dunia saat mengikuti Jakarta Marathon 2013 yang digelar Minggu pagi tadi (27/10). Ia berencana berlari sejauh 5 kilometer. Tetapi baru di depan Sarinah, di Jalan MH Thamrin, pria berusa 60 tahun itu terjatuh dan pingsan, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 6.30 WIB.
Malam sebelum mengikuti marathon, Romo Maryo dan beberapa temannya serta rombongan dari Mertoyudan yang akan ikut marathon menikmati makan bersama di Summarecon Mal Serpong. Makan malam berlangsung dengan suasana ceria. Tak ada tanda-tanda Romo Maryo mengidap penyakit yang membahayakan jiwa.
Persoalan budaya ini pun dibicarakan Romo Maryo pada makan malam itu.
Ketua Ekyastra Unmada Putut Prabontoro yang ikut dalam jamuan makan mengingat sejumlah hal yang disampaikan Romo Maryo ketika itu.
Romo Maryo, sebut Putut, sangat mengagumi dan mendukung duet Joko Widodo dan Basuki T. Purnama yang kini memimpin Jakarta. Dia menyebut duet Jokowi dan Ahok itu sebagai dwitunggal.
"Dia bahkan melihat gerak dwitunggal itu akan mempengaruhi banyak walikota atau bupati untuk berbuat baik bagi masyarakat," ujar Putut dalam pembicaraan dengan redaksi.
Romo Maryo juga mengatakan, apa yang telah dilakukan Jokowi dan Ahok seharusnya membuka mata banyak pihak, bahwa dengan budaya lah seorang manusia dapat menjadi manusia yang utuh.
[dem]
BERITA TERKAIT: