Pemerintahan Assad Serukan Gencatan Senajata

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 20 September 2013, 15:06 WIB
Pemerintahan Assad Serukan Gencatan Senajata
ilustrasi/net
rmol news logo . Konflik Suriah saat ini telah mencapai jalan buntu. Pemerintahan Bashar al-Assad akan menyerukan gencatan senjata terhadap pihak oposisi dan berencana membawanya ke konferensi Jenewa yang telah lama ditunda.

Demikian disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Bidang Perekonomian Suriah, Qadri Jamil seperti yang dirilis the Guardian (Jumat, 20/9). Jamil mengatakan bahwa di Suriah saat ini tidak ada pihak yang cukup kuat untuk memenangkan konflik.

"Baik pihak oposisi bersenjata maupun rezim pemerintahan (Assad) sama-sama memiliki kemampuan mengalahkan pihak lain," kata Jamil, sambil menegaskan bahwa keseimbangan kekuatan di Suriah tidak akan berubah dalam waktu dekat.

"Ini adalah kekuatan keseimbangan yang nol, tidak akan berubah untuk sementara waktu," lanjutnya.

Jamil yang bertanggung jawab atas masalah keuangan negara menyatakan bahwa Suriah telah menderita kerugian secara ekonomi karena perseteruan internalnya sejak tahun lalu. Suriah telah kehilangan sekitar 100 miliar dolar AS selama konflik berlangsung dengan pihak oposisi.

Lebih lanjut Jamil menilai bahwa jika pihak oposisi menerima usulan gencatan senjata, maka persenjataan yang dimiliki oleh pemerintah Suriah maupun pihak oposisi harus disimpan di bawah pengawasan internasional yang akan difasilitasi oleh PBB, asalkan pihak pengawas datang dari negara-negara netral.

Pemimpin oposisi bersenjata Suriah telah berulang kali menolak untuk datang dalam pertemuan Jenewa, kecuali jika Assad mengundurkan diri. Konferensi atas Suriah terakhir digelar di Jenewa pada bulan Juni tahun lalu, namun tidak ada pihak Suriah maupun oposisi yang datang.

Disamping itu, Jamil juga memberikan komentarnya atas laporan PBB pekan lalu yang menyatakan bahwa serangan yang terjadi pada 21 Agustus di luar kota Damaskus dipastikan telah menggunakan senjata kimia. Ia menilai bahwa PBB belum sepenuhnya selesai melakukan penelitian.

 "Tidak benar-benar obyektif," kata Jamil. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA