Demikian disampaikan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay, di hadapan ratusan pelajar Indonesia yang menghadiri Konferensi International pelajar Indonesia di Seiyun, Yaman, Rabu (21/8).
"Selama tiga hari di Yaman ini, sudah ada beberapa orang habib yang bertanya kepada saya soal semangat persatuan kita. Mereka selalu membandingkan dengan sikap
'ashobiyyah (kesukuan) yang begitu besar di Yaman. Bahkan, sikap
'ashobiyyah masing-masing suku disini terkadang lebih kuat dari otoritas pemerintah. Itu pula salah satu sebabnya mengapa sulit menyatukan antara Yaman Utara dan Yaman Selatan," kata Saleh.
Karena itu, lanjutnya, kuatnya semangat nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan yang tertanam di dalam masyarakat Indonesia harus disyukuri. Manifestasi rasa syukur itu harus diwujudkan dengan cara memupuk, membumikan, dan mewariskan semangat itu kepada generasi penerus. Hanya dengan itu, persatuan dan kesatuan bangsa bisa semakin kokoh tertanam di dalam jiwa setiap elemen bangsa.
Nasionalisme kita, lanjut Saleh, bukan tanpa tantangan. Sepanjang sejarah Indonesia merdeka, misalnya, sudah ada beberapa sistem demokrasi yang pernah diterapkan. Pada masa Orde Lama dikenal sistem demokrasi terpimpin, lalu berganti menjadi demokrasi semi otoriter yang dibungkus dengan nilai-nilai Pancasila pada masa Orde Baru. Kemudian sistem demokrasi Indonesia juga telah disempurnakan pada Orde reformasi.
Pergantian dari satu sistem ke sistem yang lain selalu diwarnai dengan gejolak sosial yang banyak menelan korban. Namun, semua elemen bangsa Indonesia tetap bisa duduk bersama dan bersatu padu lagi dengan penuh damai dan rasa persaudaraan.
"Di mana pun kita, semangat nasionalisme selalu berkobar. Walaupun kita di luar negeri, terbukti kita selalu membuka acara-acara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia raya. Ini adalah komitmen sekaligus bukti bahwa kita cinta Indonesia," demikian Saleh.
[ysa]
BERITA TERKAIT: