LAPORAN DARI YAMAN

Agar Pelajar Indonesia Tidak Dicap Teroris dan Fundamentalis...

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 20 Agustus 2013, 03:09 WIB
Agar Pelajar Indonesia Tidak Dicap Teroris dan Fundamentalis...
muhammad najib/rmol
rmol news logo Republik Yaman sedang menjadi sorotan dunia. Jaringan Al Qaeda yang didirikan Osama bin Laden dikabarkan mengkonsolidasi diri di negeri ini dan menjadikan negeri ini sebagai pusat organisasi.

Adalah Nasir Al Wuhaysi yang beberapa waktu lalu disepakati memimpin organisasi ini dari Yaman. Al Wuhaysi dikenal sebagai salah seorang tangan kanan Osama bin Laden yang tewas dalam serangan di Pakistan bulan Mei 2011. Ia pernah mengikuti Osama bin Laden mengungsi ke Tora Bora dan kemudian mengungsi ke Iran sebelum akhirnya dideportasi dan dipenjara di Yaman. Pada tahuin 2006 ia melarikan dari penjara Yaman dan sejak itu membangun kembali jaringan Al Qaeda di Semenanjung Arab.

Amerika Serikat kini tengah mengejar Al Wuhaysi dan para pengikutnya. Di Hari Raya Idul Fitri yang lalu pesawat tanpa awak Amerika Serikat menyerang sejumlah tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian Al Wuhaysi dan para pengikutnya. Hingga kini Amerika Serikat pun masih menutup kedutaan mereka di Sana'a.

Perkembangan terakhir inilah yang agaknya membuat mahasiswa Indonesia di Sana'a khawatir bila mereka yang menuntut ilmu di Yaman juga dicap sebagai bagian dari kelompok fundamentalis. Saat ini ada sekitar 2.000 mahasiswa Indonesia belajar di Yaman.

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman di Sana'a, Nasrul Hamdi, meminta bantuan anggota Komisi I DPR RI Muhammad Najib untuk meyakinkan masyarakat Indonesia di tanah air bahwa mereka, pelajar Indonesia di Yaman, bukan merupakan bagian dari kelompok fundamentalis, apalagi teroris. Permintaan itu disampaikan dalam pertemuan di Sana'a, Senin malam (19/8).

Dutabesar RI untuk Yaman, Wajid Fauzi, juga hadir dalam pembicaraan itu.

"Jelas mahasiswa Indonesia yang belajar di Yaman bukan kaum radikal dan fundamentalis. Mereka adalah generasi muda Indonesia yang memiliki cita-cita yang jelas demi membangun bangsa dan negara. Saya akan membantu meluruskan apabila ada dugaan-dugaan yang keliru mengenai mahasiswa kita di sini," ujar Najib menjawab permintaan Nasrul Hamdi dalam keterangan yang diterima redaksi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay menyarankan agar mahasiswa Indonesia di Yaman dan Kedutaan Besar RI di Sana'a bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dialog antara mahasiswa dengan BNPT diharapkan dapat meluruskan dugaan-dugaan keliru. Selain itu, mahasiswa Indonesia di Yaman juga disarankan untuk mempublikasikan kegiatan mereka agar massyarakat Indonesia di tanah air mengetahui aktivitas positif mereka.

Hal lain yang dibicarakan dalam pertemuan itu berkaitan dengan kemungkinan pemerintah memberikan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia di Timur Tengah khususnya di Yaman.

Menurut Najib ada kesepahaman di antara pemerintah dan parlemen bahwa anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN yang diberikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak diartikan secara kaku hanya untuk kegiatan pendidikan di bawah kementerian itu. Dana pendidikan itu juga ditujukan bagi pendidikan di sektor agama dan pendidikan lain yang berada di bawah kementerian atau lembaga lain.

"Juga sudah disepakati bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah satu-satunya kementerian yang tidak mengembalikan sisa anggaran, melainkan menjadikannya dana abadi yang bunganya dapat digunakan untuk membantu pendidikan," jelas Najib.

"Dan bantuan ini diutaman untuk pelajar yang mampu dan berkualitas," demikian Najib. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA