Prof. Amin: Denny JA Ingin Integrasikan Agama dan Science

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Kamis, 15 Agustus 2013, 09:32 WIB
Prof. Amin: Denny JA Ingin Integrasikan Agama dan <i>Science</i>
amin abdullah/net
rmol news logo . Wacana yang digulirkan Denny JA soal itsbat, dan secara khusus terkait dengan metode hisab dalam menentukan awal bulan Hijriyah, sangat positif bagai perkembangan dialog antara agama dan ilmu pengetahuan.

Demikian disampaikan gurubesar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Prof Amin Abdullah, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 15/8).

Amin Abdullah mengatakan bahwa sejarah hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari empat kategori. Yaitu konflik, independen, dialog, dan integrasi. Keempat kategori ini salalu mewarnai perkembangan tafsir agama dan juga penemuan baru di dunia science.

Sejarah konflik antara ilmu dan agama yang paling tragis, katanya, terjadi pada abad pertengahan, yaitu konflik antara gereja dan ilmuwan. Saat itu terjadi perdebatan antara heliosentris dan geosentris. Tafsir gereja di Eropa saat itu bahkan hingga berdarah-darah, dan memakan korban nyawa. Pada akhirnya, tafsir gereja tunduk pada penemuan baru  science, khususnya di bidang astronomi.

Bukan hanya di Eropa, lanjut Amin. Di dunia Islam pun terjadi babak konflik antara agama dan ilmu. Meskipun memang konflik antara agama dan ilmu di Dunia Islam tidak setragis yang terjadi di Eropa.

"Kalau dilihat, baik pemahaman agama maupun ilmu, itu bagian dari interpretasi manusia, budaya manusia, terhadap realitas alam, terhadap realitas ini dan itu. Karena itu wajar-wajar saja terjadi ketegangan. Bahkan ketegangan ini, akan terjadi kapan saja dan dimana saja, seiring dengan penemuan-penemuan science," jelas Amin Abdullah.

Dari sisi ini, Amin tidak heran dengan pernyataan Denny JA. Pernyataan Denny JA ini biasa-biasa saja bila melihat peta hubungan antara ilmu dan agama. Sementara pernyataan Denny JA bahwa sidang itsbat yang dilakukan H-1 mempertontonkan kebodohan umat Islam di mata internasional, juga sangat penting.

"Saya melihat pandangan ini bukan pandangan yang provokatif. Ini pandangan semacam terapi yang memang perlu," ungkap Amien Abdullah, yang disertasinya doktornya membandingkan konsep etika antara filosof Jerman Immanuel Kant dan pemikir muslim yang sangat berpengaruh, Imam Ghazali.

Dengan terapi seperti ini, lanjutnya, persoalan antara metode rukyat dan hisab yang selama sulit dipertemukan, akan mengalami fase konflik. Dari fase konflik ini maka akan ada fase dialog, yang ujungnya diharpakan memasuki fase integrasi.

"Jadi upaya Denny, yang menurut saya biasa saja, tapi mungkin mengagetkan sejumlah orang itu, adalah terapi, sehingga ke depan ada integrasi antara kedua motode itu. Ini positif, dan saya mendukungnya. Masa kita sukses dalam hal demokrasi, tapi gagal dalam persoalan rukyat dan hisab, he he. Karena itu perlu didialogkan," tegas Amin, sambil mengatakan bahwa dalam dialog itu semua pihak harus sama-sama membuka pikiran, pandangan, dan saling berlapang dada.

"Karena perguruan tinggi kita, baik agama mapun negeri, belum biasa dengan wacana pertentangan agama dan ilmu, maka pernyataan Denny ini dinilai mengagetkan, dan sebagian orang gugup. Padahal biasa saja," ungkap Amin kembali menekankan.

Amin pun tidak setuju dengan kritik sementara kalangan yang disampaikan kepada Denny JA. Disebutkan dalam kritik itu misalnnya bahwa Denny JA tidak punya kapasitas untuk berbicara soal hisab sebab dia bukanlah ahli dalam persoalan tersebut.

Menurut Amien, upaya Denny ini bagian dari usaha untuk menjadikan persoalan hisab dan rukyat sebagai wacana publik. Dan memang persoalan ini bukanlah monopoli lembaga atau institusi tertentu. Publik, bukan hanya Denny JA, berhak mengeluarkan pandangan soal ini ke muka umum.

"Karena ini public discourse maka boleh disampaikan oleh orang yang tidak merepresentasikan keilmuan tertentu. Karena itu, pernyataan Denny harus dinilai sebagai alat untuk membuka ruang dialog," ungakp Amien.

Dalam sejarah Islam, Amin mencatat, cara yang disampaikan Denny JA ini juga memiliki sumbernya. Dalam beberapa kasus, Umar bin Khattab sering mengemukakan wacana, yang bahkan wacana itu, atau ijtihad itu, bertentangan dengan pandangan Nabi Muhammad. Bahkan, dalam kasus batas mahar atau mas kawin misalnya, Umar menerima wacana yang datang dari seorang perempuan biasa, kemudian membawa persoalan itu menjadi wacana publik.

"Kenapa Umar melakukan itu, karena Umar mampu menangkap semangat zaman. Jadi saya tidak setuju bila ada yang mengatakan Denny tak berhak bicara itu karena bukan ahli," demikian Amien. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA