Metode Survei Bikin Konvensi Demokrat Cuma Pertaruhan Popularitas dan Citra

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 13 Agustus 2013, 18:07 WIB
Metode Survei Bikin Konvensi Demokrat Cuma Pertaruhan Popularitas dan Citra
demokrat/net
rmol news logo . Metode penetapan capres hasil konvensi melalui hasil survei menjadikan spirit konvensi menjadi semata ajang pertaruhan popularitas dan citra.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti, beberapa saat lalu (Selasa, 13/8). Ray pun mengatakan, paling tidak ada dua kelemahan melalui hasil survei ini.

Pertama, katanya, cara ini akan menggiring para kandidat capres untuk berlomba-lomba mempopulerkan diri dengan sebanyak-banyaknya tampil di publik, menggenjot popularitas dengan iklan dan memobilisasi citra. Hal ini tentu saja dapat mengaburkan tujuan pencarian kandidat capres dengan visi Indonesia yang maju, bersih dan sejahtera.  

"Kandidat akan lebih terpancing untuk lebih mengutamakan persepsi dari fakta. Yang digalakan adalah soal bagaimana membuat persepsi baik di mata masyarakat sekalipun sesungguhnya jauh dari yang diutarakan," ungkap Ray.

Kedua, lanjut Ray, jika akhirnya metode penetapan kandidat capres melalui hasil survei pada hakekatnya tak perlu dilakukan konvensi. Sebab, secara alami dan berjalan apa adanya, banyak tokoh yang mendapat apresiasi dan penilaian layak di mata masyarakat saat ini. Banyak survei yang diungkapkan ke masyarakat saat ini dapat dijadikan sebagai rujukan untuk melirik calon presiden yang dimaksud.

"Justru akan menjadi lucu, nama yang begitu luas muncul di persepsi masyarakat sebagai calon presiden yang diungkapkan melalui berbagai survei malah tidak diundang untuk terlibat dalam konvensi. Hasil survei sejatinya hanya menjadi salah satu alat ukur bukan menjadi satu-satunya rujukan untuk menetapkan capres Partai Demokrat," tegas Ray.

Di sisi lain, masih kata Ray, mematok survei sebagai alat ukur dengan sendirinya juga menapikan partisipasi warga Partai Demokrat sendiri. Padahal, partisipasi warga Demokrat mestinya menjadi sesuatu yang dengan sendirinya menjadi bagian inti dari konvensi ini, di samping adanya keterlibatan masyarakat umum di dalamnya.

"Mungin perpaduan pemilihan dari suara pengurus partai dengan hasil survei menjadi sesuatu yang lebih memberi bobot demokrasi dan subtansialitas," demikian Ray. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA