Karena itu, sangat wajar bila kemudian Jumhur mengurungkan niatnya untuk mengikuti konvensi.
"Saya agak jarang sependapat dengan Bang Ruhut. Tapi kali ini, pendapat bang Ruhut itu kelihatannya sangat tepat dan mengena", demikian disampaikan Mora Harahap, Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 13/8).
Selain miskin prestasi dalam memimpin BNP2TKI, katanya, Jumhur memang tidak layak untuk ikut konvensi. Pasalnya, konvensi itu sendiri akan diikuti oleh beberapa kontestan yang sudah memiliki nama, reputasi, dan pengalaman. Sementara Jumhur, karir tertingginya hanyalah sebagai kepala Badan.
"Konvensi pasti terasa janggal kalau Jumhur ikut. Sangat aneh rasanya kalau dia harus berkompetisi dengan Edhie Pramono, Marzuki Alie, Chairul Tanjung, Rusdi Kirana, dan nama besar lain yang akan ikut. Tidak usah komite konvensi, TKI kita saja pasti akan mengeliminasinya?" ungkap Mora.
Karena itu, Mora menyarankan agar Komite Konvensi membuat persyaratan khusus sehingga calon yang benar-benar ikut adalah yang benar-benar
qualified. Kalau dibiarkan terbuka secara bebas, dikhawatirkan akan muncul calon-calon asal-asalan. Sudah jelas tidak layak, tetapi tetap mendaftarkan diri.
Pendapat ini disampaikan, lanjut Mora, karena sayang dengan Jumhur. Kalau dia terus maju, dipastikan akan muncul polemik yang kontraproduktif dengan karir politiknya. Buktinya, baru berniat maju saja sudah banyak penolakan.
"Kalau penolakan semakin banyak, yang rugi tentu saja Jumhur sendiri," demikian Mora.
[ysa]
BERITA TERKAIT: