Demikian disampaikan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid. Nusron Wahid pun mengatakan soal otoritas seseorang dalam menyampaikan satu pandangan.
"
Wong pemilu saja kita menghargai yang boleh komentar par ahlinya. Masak urusan agama yang urusan dan hubungannya dengan
nash, semua orang boleh komentar, ha ha ha," kata Nusron kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 13/8),
Soal sidang itsbat, Nusron menegaskan bahwa itu juga tidak murni menggunakan
rukyat al hilal. Dalam sidang itsbat itu juga mengandung unsur
science, yaitu
imkan al rukyat atau probabilitas rukyat berdasarkan hisab. Dan berdasarkan hasil penghitungan ilmu falaq, bila posisi hilal lebih dari dua derajat maka bisa dipastikan bisa di-rukyat. Sebaliknya bila berada di bawah dua derajat, potensi untuk di-rukyat sangat kecil.
Hitungan dua derajat ini, lanjut Nusron, adalah substansi yang menjadi polemik dalam menentukan awal bulan Hijriyah saat ini. Di sisi inilah maka itsbat dibutuhkan untuk mengkahiri kontroversi dan polemik ini, sehingga ada kesepakatan bersama.
"Sebenarnya itsbat itu relevansinya disitu," tegas Nusron.
Nusron melanjutkan, bahwa terkait dengan hal ini ada hadits yang menyebutkan bahwa
"shuumu wa aftiru bi rukyatikum", yang artinya, berpuasalah dan berbukalah dengan melihat atau rukyat. Di sisi lain memang ada tafsir, apakah rukyat itu termasuk forecasting atau tidak. Dan apapun itu, forecasting hanya menjadi panduan sebagaimana forecasting hasil pemilu atau bisnis. Namun tetap saja, keputusan tetap itu menggunakan
real count."Kenapa harus di atas 2 derajat? Angka itu ibarat angka aman
margin of error, dalam
quick count. Saya mau tanya, apa mungkin Denny JA bisa memastikan siapa pemenang dalam
quick count kalau angkanya di bawah
margin of error?" tantang Nusron.
"Maka supaya tidak kontroversi dibutuhkan itsbat. Kecuali bagi yang meyakini, terutama para ahli falaq. Sebab ujung-ujungnya agama itu keyakinan. Dan saya dulu, waktu sempat menghitung juga sering beda dengan pemerintah," kata Nusron lagi sambil menegaskan bahwa persoalan ini lebih baik diakhiri saja sebab tidak produktif.
[ysa]
BERITA TERKAIT: