"Dia tidak pernah berbicara kepada saya soal suku-suku. Memang karena itu kami berada di PDI, karena PDI tidak membedakan suku, ras dan agama," kata politisi senior PDI Perjuangan, Sabam Sirait, saat menjadi pembicara dalam acara memperingati 40 Hari almarhum Taufiq Kiemas, di Jakarta Ballroom Novotel, Jalan Gajah Mada, Jakarta (Rabu, 17/7).
Acara bertema "Mengengang Pemikiran dan Perjuangan Taufiq Kiemas untuk Demokrasi dan Pluralisme di Indonesia" ini digelar oleh Taruna Merah Putih, sayap pemuda PDI Perjuangan. Selain Sabam, hadir sebagai narasumber Ketua PBNU Said Agil Siradj, cendekiawan Yudi Latif dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Menurut Sabam, pada awalnya, Mega dan Taufiq bergerak sendiri-sendiri. Hingga pada akhirnya mereka memiliki pom bensin, dan pom bensin inilah yang membiayai roda partai
"Sering sekali pompa bensin itu mau disegel karena sering memberi bantuan bagi partai," kata Sabam, yang juga deklarator dan juga mantan Sekjen PDI.
"Dia (TK) punya ambisi, tapi bukan ambisius," sambung Sabam.
[ysa]
BERITA TERKAIT: