Jurubicara Presiden, Julian Aldrin menjelaskan, penghargaan itu diberikan oleh sebuah lembaga internasional independen yang kredibilitasnya diakui oleh dunia. Lembaga ini telah beberapa kali memberikan awards kepada sejumlah Kepala Negara, seperti: PM Kanada, Presiden Korsel, Kanselir Jerman, dan PM Inggris Gordon Brown.
"Awards diberikan dalam konteks kenegarawanan seseorang, yang dinilai berjasa dan berhasil bagi terciptanya perdamaian, toleransi beragama dan demokrasi," kata Julian dalam pesan singkat kepada
Rakyat Merdeka Online (Jumat, 17/5).
Julian mengungkapkan itu terkait penilaian sejumlah masyarakat bahwa Kepala Negara tidak layak mendapatkan penghargaan tersebut. Bahkan rohaniawan Frans Magnis Suseno sudah mengirimkan surat protes kepada lembaga yang berbasis di New York, Amerika Serikat, tersebut.
Melanjutkan keterangannya, Julian menekankan, pihaknya tidak pernah meminta agar Presiden SBY mendapat penghargaan apa pun, dari mana pun. Tapi bila kemudian award dari ACF tersebut dipersoalkan oleh seseorang atau sekelompok orang di dalam negeri, pihak Istana tentu akan mendengarkan itu dalam konteks kebebasan berbicara dan berpendapat.
"Namun bila pandangan yang mengatasnamakan wakil suatu komunitas, kemudian memprotes dengan memaksa untuk menolak rencana pemberian award oleh ACF, yang disampaikan secara terbuka seolah dirinya mewakili semua, maka itu jelas satu cara pandang yang sempit didasari penafsiran filsafat politik minus etika," ungkap Julian.
"Jadi sesungguhnya, protes atas rencana pemberian award dimaksud, hanya membuat orang tahu bahwa di sini masih ada orang yang berpikiran sempit (
narrow-minded) kepada Kepala Negaranya. Kami berharap, pihak pemberi award tidak merasa dilecehkan oleh mereka dan memaklumkannya," demikian Julian.
[zul]
BERITA TERKAIT: