"Pengaruhnya jelas. Karena pemilihnya selama ini adalah kelompok terdidik-rasional. Kemungkinannya (PKS) akan kembali ke pemilih basis utama, konstituen
die hard. Mau ada goncangan apapun, kader
die hard itu tak akan goyah," jelas pengamat politik dari The Indonesian Institute Abdul Rohim Ghazali kepada
Rakyat Merdeka Online (Senin, 4/1).
Rohim menjelaskan, peningkatan suara PKS dari Pemilu ke Pemilu merupakan implikasi startegi yang diambil partai tersebut. Setelah mengusung tema bersih, peduli, PKS kemudian menjadi partai terbuka terhadap semua golongan.
"Dia berusaha menarik ceruk dari segmen lain. Dan banyak masyarakat di luar kader intinya yang memilih. Tapi pada kenyatannya, PKS tidak konstisten, ya mereka akan memilih partai lain. Karena mereka menganggap PKS tidak ada beda dengan partai lain," ungkapnya.
Karena itu, menurut Rohim,
recovery dan termasuk konsolidasi yang akan dilakukan Presiden PKS baru, Anis Matta paling hanya bisa memperkecil dampak destruktif akibat kasus impor daging sapi itu. Apalagi, kata Rohim, Anis Matta juga dikait-kaitkan kasus suap di Badan Anggaran.
"Tapi Anis posisinya di PKS strategis. Dia itu seperti melting pot bagi semua kepentingan. Dia bisa berkomunikasi dengan semua segmen di PKS. Secara integritas, sebenarnya dipertanyakan," sambung dosen Universitas Paramadina ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: