“Kami memang sudah tidak melihat untung rugi. Proyek ini harus jadi tepat waktu,†ujar M Choliq, Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) yang bersama Hutama Karya dan Adhi Karya mengerjakan proyek itu.
Di mata saya, ini juga seperti proyek penebusan dosa. Terutama bagi sebagian BUMN karya yang dulu sering diberitakan terlibat kasus sogokmenyogok.
Peluang nyogok memang tidak mungkin di sini: pemilik proyeknya BUMN, pendanaannya BUMN, dan kontraktornya BUMN.
Sistem “keroyokan†ini juga akan menjadikan proyek jalan tol Bali menjadi yang tercepat pemÂbangunannya dan tercantik peÂnampilannya. Juga akan menjadi jalan tol di atas laut yang pertama di Indonesia.
Inilah proyek jalan tol yang memÂÂberi inspirasi untuk pemÂbaÂnguÂnan jalan tol di atas laut lainÂnya. Seperti jalan tol yang akan menghubungkan basis inÂdustri di Kawasan Berikat NuÂsantara ke derÂmaga baru peÂlaÂbuhan New Tanjung Priok di KaÂlibaru Jakarta Utara.
Waskita Karya mengerjakan proÂyek ini dari arah Benoa. PeleÂbaran jalan lama sudah diÂlaÂkuÂkan. Pemancangan tiang-tiang pancang di atas Teluk Benoa suÂdah jauh sampai di atas laut. SuÂdah lebih 2.000 titik tiang panÂcang yang diselesaikan. “Tidak ada kendala yang berarti,†ujar Tito Karim, Dirut PT Jasa Marga Bali Tol yang akan menjadi peÂmilik proyek ini.
Hutama Karya yang memulai proyek ini dari arah Ngurah Rai juga tidak kalah cepat. Tiang paÂcangnya sudah terlihat jauh menÂjorok ke laut. Bahkan bundaran yang akan menjadi pintu masuk dari arah Ngurah Rai sudah meÂmasuki tahap pemasangan beton.
Saya berkali-kali meÂnyamÂpaiÂkan terima kasih dan pengÂhaÂrÂgaÂan kepada tim Hutama Karya. Tim inilah yang menemukan tekÂnik bagaimana mempercepat peÂmancangan tiang di laut. TerÂutaÂma teknik untuk mengurangi keÂtergantungan kepada ponton.
“Pemancangan tiang dengan ponton tidak bisa dilakukan 24 jam. Pada saat air laut surut pÂeÂkerjaan harus berhenti. Dengan tekÂnik ini kami bisa bekerja 24 jam,†ujar Tri Widjajanto JoeÂdosastro, Dirut PT Hutama Karya (Persero).
Teknik ini lantas ditularkan ke Adhi Karya yang memulai proÂyek ini dari sisi Nusa Dua. PeÂmancangan pun bisa lebih cepat. Selama tiga bulan pertama proÂyek ini hanya berhasil diÂpanÂcangkan 1.000 tiang pancang. Setelah ada cara baru itu, setiap bulan bisa dipancangkan 1.000 tiang pancang.
Kalau target penyelesaian itu bisa tercapai memang sangat berÂsejarah. Betapa jauh bedanya deÂngan yang pernah terjadi di SuÂraÂbaya. Pembangunan jalan tol sepanjang 12 km dari Waru ke Juanda Surabaya memakan wakÂtu 12 tahun. Proyek jalan tol di Bali ini, dengan panjang yang kuÂrang lebih sama, bisa diselesaikan hanya dalam 16 bulan. 12 tahun berbanding 16 bulan!
Kalau jalan tol di atas laut BeÂnoa ini nanti jadi, kendaraan dari arah bandara yang ingin menuju Nusa Dua tidak lagi harus berÂjuÂbel melewati jalan satu-satunya seÂkarang ini. Bisa langsung meÂnuju bundaran, lalu naik ke jalan tol menuju tengah laut. Di tengah laut itu ada interchange yang cantik, bercabang-cabang, dan meliuk-liuk.
Di interchange tengah laut itu semua kendaraan bisa langsung memutar ke kiri menuju Sanur. Atau ke kanan ke arah Nusa Dua. Atau ke arah barat ke bandara Ngurah Rai. interchange yang melingkar-lingkar di atas laut itulah bagian yang paling indah dari proyek ini.
Setiap kali melakukan peninÂjauan ke proyek ini, saya selalu teringat nama ini: Ir Sumaryanto WiÂdayatin, Deputi Bidang InÂfrastruktur dan Logistik KemenÂterian BUMN. Dialah penggagas jalan tol di atas laut ini. Dia pula yang sangat aktif menemukan dan mewujudkan berbagai teroÂboÂsan. Terutama agar proyek jalan tol ini bisa terwujud dengan cepat.
Hampir setiap hari Pak Sum, begitu nama panggilannya, meÂnerobos ruang kerja saya untuk minta blessing berbagai ide gilaÂnya. Mulai ide jalan tol, peÂlaÂbuÂhan, bandara, sampai pemÂbeÂnaÂhan perusahaan-perusahaan yang ada di bawah koordinasinya.
Saya sungguh cocok dengan orang ini. Agak terasa kurang soÂpan, kurang ajar, meledak-ledak, ngotot, tapi logikanya sangat baik. Kalau berdebat suka meÂlaÂwan, tapi kalau keputusan sudah diambil dia sangat loyal. Saya mendengar, beberapa bulan seÂbelum saya menjadi menteri, di seÂbuah rapat dengan salah satu instansi, Pak Sum disiram kopi oleh pejabat tinggi di instansi terÂsebut. Saya pun kadang ingin juga menyiramkan kopi ke waÂjahÂnya, tapi saya tidak minum kopi.
Sesekali saya memang meÂngaÂlami, dua-tiga hari setelah keÂpuÂtusan diambil, dia datang lagi deÂngan ide baru. Rupanya dia tidak puas dengan keputusan yang suÂdah diambil. Tapi dia juga tidak ngotot dengan ide lamanya. KeÂliÂhaÂtannya dia terus berpikir dan berÂpikir. Lalu menemukan ide yang lebih baru. Yang hebat, dia tidak pernah takut meÂngÂeÂmuÂkaÂkan ide yang lebih baru itu kepaÂda saya. Dan saya tidak pernah malu untuk mencabut keputusan saya yang memang kalah baik dari idenya.
Kini, Pak Sum dirawat di SiÂngapura. Enam bulan lalu, lewat tengah malam, ia mengalami stroke. Untung istrinya segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak sampai kehilangan golden time yang sangat vital bagi penÂderita stroke. Nyawanya selamat.
Meski mengalami kelumpuhan sampai tidak bisa berbicara, tapi semangatnya untuk sembuh luar biasa. Itulah yang membuat konÂdisinya kian hari kian baik. ApaÂlagi di tangan istrinya yang sangat telaten merawat dengan sepenuh hati dan melatihnya.
Belakangan Pak Sum sudah bisa duduk di atas kursi roda. Untuk dibawa berjemur di bawah matahari pagi. Bahkan minggu-minggu ini Pak Sum sudah bisa dibawa kembali ke Jakarta. KeÂtika diadakan acara pemancangan tiang pertama proyek ini bulan Desember lalu, dia hadir dengan mengenakan baju batik yang agak kedodoran. Dia memang terÂmasuk orang yang penamÂpiÂlanÂnya agak asal-asalan dan cenÂderung urakan.
Dari atas podium saya minta dia berdiri. Saya sampaikan keÂpaÂda seluruh hadirin bahwa dialah yang memiliki ide jalan tol di atas laut Bali ini. Terutama untuk mengÂhindari keruwetan pembebasan tanah. Pak Sum juga yang meÂmiliki ide mengÂgaÂbungÂkan berÂbagai kekuatan BUMN agar bisa kerja keroyokan. Dia meÂmang puÂnya kemamÂpuan tekÂnis dan meÂmiliki kekuaÂtan untuk melakukannya.
Saat menjenguknya beberapa waktu lalu, saya sempat memÂbiÂsikkan ke telinganya mengenai perkembangan proyek yang dia gagas ini. Saya membisikkannya sambil mencengkeram jari-jari taÂngannya. Dia memang sudah bisa berada di kursi roda, tapi maÂsih belum bisa menggerakkan seÂluÂruh tubuhnya. Juga belum bisa berkata-kata. Saat berbisik ke teÂlinganya, wajahnya kelihatan berÂseri dan matanya kelihatan berÂgeÂrak-gerak. Cengkeraman jari taÂngannya juga terasa menguat.
Kalau saja Pak Sum bisa meÂlihat perkembangan proyek itu sekarang, alangkah bangganya. Apalagi tim BUMN karya yang di lapangan bekerja sungguh-sungguh dan menemukan banyak cara untuk mempercepatnya.
Saya minta berbagai terobosan itu dicatat dan dijadikan buku. DaÂlam acara peresmian kelak, buku tentang pembangunan jalan tol ini sudah harus jadi. Untuk pembelajaran bagaimana sebuah proyek bisa terwujud cepat hanya karena kuatnya kemauan. Di baÂnyak hal, kita ini tidak bisa meÂwujudkan sesuatu bukan karena tidak bisa, tapi karena lemahnya kemauan. Tidak “Ya Begitulahâ€
Di samping meninjau proyek jaÂlan tol, pagi itu, sebelum meÂnyamÂpaikan pidato ilmiah di acara Dies Natalis ke-50 UniÂverÂsitas Udaya, saya melihat proyek pemÂbaÂnguÂnan bandara baru Ngurah Rai. Ini juga kerja keÂroÂyokan tiga BUMN: Adhi Karya, Waskita Karya, dan Angkasa Pura I.
Ini juga proyek yang tidak lagi menghitung untung rugi. Ini adalah proyek yang harus jadi tepat pada waktunya. Lantai satu dan dua sudah selesai. Saya naik ke lantai tiga. Di sinilah lokasi check-in, ruang tunggu kebeÂrangÂkatan, sampai boarding diÂlaÂkuÂkan. Berada di lantai tiga proyek ini, saya baru merasa bangga. Terasa luasnya. Lantai tiga ini akan terasa sangat lapang dan longgar. Ini karena tinggi ruangan itu sampai 17 meter.
Jarak antara pilar satu dan pilar lainnya sampai 60 meter. Pilar itu sendiri garis tengahnya sampai 8 meter. Berupa ruang kosong yang menembus langit. Di tengah seÂtiap pilar kosong inilah kelak akan ditanam pohon besar.
Memang tidak gampang meÂlaksanakan pembangunan proyek ini. Lapangan untuk kerjanya saÂngat sempit. Manuver perÂalÂaÂtanÂnya terbatas. Bahkan jadwal pemÂbangunan masing-masing bagian harus disesuaikan dengan keperÂluan penumpang pesawat saat ini.
Inilah risiko membangun banÂdara baru di lokasi bandara lama. Sambil membangun harus tetap menjaga agar semua fungsi peÂlaÂyanan tidak terganggu.
Memang mulai ada keluhan. Koridor untuk jalan kaki menuju tempat keberangkatan domestik sangat jauh. Tapi tidak banyak pilihan untuk mencapai kÂeÂmaÂjuÂan. Apalagi, setelah saya rasakan sendiri, sebenarnya tidak juga leÂbih jauh dari umumnya bandara di luar negeri. Kebiasaan lama yang serba dekat telah meÂnimÂbulkan dampak psikologis meÂngeÂnai jarak sebuah koridor.
Saya hanya mengajukan bebeÂrapa pertanyaan. Salah satunya: akan seperti bintang berapakah bandara Ngurah Rai nanti? BaÂnyak bandara baru kita bangun tapi finishing-nya hanya setingkat bintang tiga. Saya khawatir NguÂrah Rai pun seperti itu. “Tidak,†jawab Yanus Suprayogi, pimÂpiÂnan proyek bandara baru ini.
“Bandara baru Ngurah Rai akan setingkat bintang lima,†ucap Yanus tegas. Malam itu saya pun tidur dengan nyenyaknya. Apalagi di kamar baru di hotel baru milik BUMN yang belum diresmikan: Grand Inna Kuta. Mungkin masih perlu waktu seÂbulan lagi bagi hotel ini untuk berÂoperasi. Masih ada beberapa koreksi dan pemasangan “jemÂbatan†menuju hotel Inna Kuta yang lama. Tapi, setidaknya, wuÂjudnya sudah jelas.
Hotel Inna Kuta tidak akan menjadi bahan ejekan, bahwa seÂmua hotel milik BUMN “ya beÂgitulahâ€. Setelah ini, fokus beriÂkutÂnya adalah pembangunan hoÂtel bintang lima di Nusa Dua: Grand Inna Putri Bali yang kini keÂlasnya juga “ya begitulahâ€. Saat ini baÂngunan lama sedang diroÂbohÂkan. Di atas lahan 7 ha itu akan diÂbaÂngun hotel baru dengan peÂranÂcang Kamil Ridwan, arsitek keÂbangÂgaan Indonesia yang lagi ngetop itu.
Konsepnya pun berubah. Dulu pantai itu dianggap “halaman belakangâ€. Kelak pantai adalah “halaman depan†yang harus dimanfaatkan kekuatannya.
Kualitas “ya begitulah†meÂmang harus segera lenyap dari duÂnia BUMN!
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: