Direktur Eksekutif Jakarta Policy Centre, Yahya Habib, tidak kaget dengan hasil tersebut. Kalau pada putaran pertama hasil lembaga survei politik yang rontok, katanya, maka pada putaran kedua ini koalisi parpol besarlah yang rontok.
"Ini sudah kami prediksi. Kami sering sampaikan bahwa telah terjadi pergeseran nilai di masyarakat, dimana suara rasional masyarakat telah berkoalisi dengan figur secara langsung tanpa sekat. Sehingga koalisi partai tak cukup kuat untuk mempengaruhi suara pemilih yang sudah lebih independen menentukan hak pilihnya," kata Yahya kepada
Rakyat Merdeka Online, Kamis (20/9).
Menurutnya, kemenangan Jokowi juga bagian yang tak terpisahkan dimana telah terjadi pergeseran keterwakilan bagi pemilih dari partai kepada individu masyarakat yang secara alamiah telah terbangun dengan sistematis.
"Kami mengapresiasi lembaga survei yang kembali on the track, tapi sangat disayangkan mesin-mesin partai yang besar tak mampu berbuat banyak di putaran kedua kali ini," tandas yahya.
Hal menarik lain yang patut disorot, adalah sikap Fauzi Bowo yang secara elegan dengan sikap kenegarawananya langsung mengucapkan selamat kepada Jokowi tak lama setelah berbagai lembaga riset menyampaikan hasil hitung cepat mereka.
"Kami mengapresiasi sikap ini, semoga ini menjadi awal momentum bangkitnya Jakarta," tandas Yahya.
[dem]
BERITA TERKAIT: