MAKKAH-AQSHA-BAGHDAD (2)

Kerinduan Dengan Luka Di Kaki

Catatan: Dahlan Iskan, Menteri BUMN

Kamis, 23 Agustus 2012, 07:51 WIB
Kerinduan Dengan Luka Di Kaki
Dahlan Iskan

”DARI Indonesia,” jawab saya.

”Muslim?” Tanya tentara Israel bersenjata itu.

”Yes,” jawab saya.

Kami pun bisa dengan mudah me­lewati gerbang tua dengan tembok yang tebal dan kokoh itu. Gerbang yang dijaga tentara Israel bersenjata. Inilah gerbang masuk ke kawasan yang luasnya sekitar 10 lapangan se­pak­­bola. Yang di dalamnya terdapat taman dan pepohonan.

Di tengah taman itu terdapat mas­jid besar berkubah kuning. Itulah Mas­jid Kubah Batu. Tidak jauh dari situ terlihat satu masjid besar lagi: itulah Masjid Al Aqsa.

Tembok yang mengelilingi ka­wasan ini terlihat tinggi, tebal dan ter­kesan sangat kuno. Dari luar, tembok ini tidak terlihat karena tertutup per­kam­pungan yang padat, yang sampai menempel ke tembok.

Dari arah kota Jerusalem, untuk men­capai gerbang ini harus jalan kaki melewati gang-gang kecil yang sambung-menyambung. Juga naik turun dan berliku-liku.

Itulah perkampungan yang hampir 100% penduduknya warga Palestina.

Tukang cukur, penjual makanan, mainan anak-anak, dan toko ke­lon­tong terlihat di sepanjang gang itu.

Melewati gang-gang menuju ger­bang Baitul Maqdis saya teringat ba­gaimana masuk ke Masjid Ampel Su­rabaya, yang harus melewati kam­pung Arab yang padat. Ya mirip itulah.

Bagi penduduk kampung ini tidak ada larangan apa pun untuk melewati gerbang itu. Mereka memiliki KTP ber­warna biru. Mereka bisa salat di Baitul Maqdis (baik di Masjid Kubah Batu maupun di Masjid Al Aqsa) kapan saja.

Tapi bagi warga di luar kampung tua ini ada peraturan khusus: yang berumur kurang dari 40 tahun tidak boleh masuk. Otomatis dilarang juga salat di sana. Untuk mengontrol mereka, warna KTP-nya dibedakan: hijau.

Ini dalih Israel, untuk mencegah ber­kumpulnya pejuang Palestina dari ber­bagai penjuru di masjid Al Aqsa.

Ada tujuh gerbang masuk ke ka­wasan Baitul Maqdis ini. Semuanya ter­hubung dengan gang-gang kecil per­kampungan padat Palestina. Semua dijaga tentara Israel bersenjata.

Kalau saja lebih terurus, kawasan di dalam tembok tua ini akan sangat indah. Taman-tamannya yang luas dipisahkan oleh jalan-jalan kecil terbuat dari batu. Hanya saja kurang rapi dan kurang bersih.

Hari itu, hari ke-28 bulan puasa, saya tiba di sini langsung dari perbatasan Is­rael-Jordania. Saya tidak mampir hotel dengan maksud mengejar salat zuhur berjamaah. Tapi telat.

Tapi ada hikmahnya. Saya bisa salat zuhur bersama keluarga di Masjid Ku­bah Batu. Laki-laki memang hanya di­izinkan memasuki masjid Kubah Batu di antara waktu zuhur dan ashar.

Masjid Kubah Batu ini istimewa karena ada bukit batu di tengah-te­ngah­nya. Bukit batu ini dikelilingi tembok setinggi 3 meter sehingga jemaah di sini se­perti berjajar melingkarinya.

Dari atas bukit batu inilah Nabi Muhammad SAW “naik” ke Sidratul Muntaha, menghadap Allah SWT. Yak­ni untuk menerima perintah kewajiban men­jalankan salat lima kali sehari.

Peristiwa itu terjadi di malam hari tang­gal 27 Rajab, yang kemudian tiap ta­hun diperingati sebagai Isra’ Mi’raj.

Waktu peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi tentu belum ada bangunan apa pun di situ. Masjid Kubah Batu tersebut baru dibangun belakangan. Di bawah bukit batu ini terdapat juga goa yang besarnya cukup untuk bersembunyi 10 orang. Konon Nabi Ibrahim yang menggalinya.

Kini masjid Kubah Batu hanya untuk wanita. Imamnya ikut imam Masjid Al Aqsa dengan pengeras suara yang di­alirkan ke masjid ini. Jarak masjid Ku­bah Batu dengan masjid Al Aqsa memang hanya sekitar 300 meter. Al Aq­sa lebih di bawah.

Tiga Risiko

Usai salat zuhur di Kubah Batu, kami jalan-jalan melihat sisi luar tembok kuno yang mengelilingi kawasan ini. Ada satu kawasan di luar tembok yang bisa dibebaskan dari perumahan Pa­lestina. Itulah bagian luar tembok yang ke­mudian dijadikan tempat ibadah orang Yahudi. Mereka antre menuju tem­bok ini, menangis dan meratap di situ.

Sore itu kami salat ashar di masjid Al Aqsa. Waktu maghrib kami ke mas­jid ini lagi. Disambung salat isya dan tarawih.  Tarawih di sini sama dengan di Makkah, yakni 20 rakaat. Bacaan surahnya pun sangat panjang. Tapi lebih cepat. Bedanya, di setiap habis dua rakaat diselingi salawat nabi.

Jemaah tarawih malam itu sekitar 1.500 orang. Hanya saja setiap selesai dua rakaat ada saja yang meninggalkan masjid. Selesai rakaat ke-10 tinggal separuh masjid terisi.

Di Al Aqsa mayoritas jemaah mengenakan celana biasa (banyak ber­ce­lana jeans atau celana anak muda se­tengah tiang). Hanya beberapa orang yang mengenakan penutup kepala.

Menjelang subuh saya ke masjid Al Aqsa lagi. Genaplah saya salat lima waktu di Al Aqsa.

Menjelang matahari terbit saya du­duk-duduk di pelataran masjid. De­mi­kian juga puluhan anak muda. Uda­ra­nya sejuk. Pepohonan besar terasa se­perti mengeluarkan oksigen lebih banyak.

Saat duduk-duduk itulah saya tahu ternyata cukup banyak anak muda yang ber-KTP hijau. Kok bisa masuk ke sini?

”Loncat pagar kawat berduri,” ujar pemuda 27 tahun itu.

“Saya melewati lubang yang saya buat di bawah pagar,” ujar pemuda di sebelahnya.

“Kalau saya memanfaatkan jarak kawat yang agak renggang yang cukup untuk badan saya,” kata seorang pe­muda yang ternyata dokter.

Mereka itu adalah pemuda-pemuda Palestina yang sangat merindukan salat di masjid Al Aqsa. “Sejak adanya la­rang­an anak muda datang ke sini, baru se­kali ini saya ke masjid Al Aqsa,” kata­nya.

Al Aqsa tentu sangat istimewa. Inilah infrastruktur pertama yang pernah dibangun di muka bumi. Yakni 40 tahun setelah pembangunan Kabah yang pertama. Baik Al Aqsa maupun Ka’bah sama-sama sudah mengalami berkali-kali pembangunan kembali. Setelah rusak oleh gempa maupun banjir.

Dua-duanya dipercaya dibangun oleh malaikat sebelum Nabi Adam turun ke bumi. Keistimewaan Al Aqsa itulah yang membuat para pemuda Palestina itu mengambil risiko yang berat untuk bisa salat malam tanggal 27 Ramadan di dalamnya. Al Aqsa adalah tempat suci mereka dan ibukota negara mereka.

Sejak Israel membangun perumahan Yahudi di tanah Palestina, perkam­pungan orang Palestina dipagari kawat berduri. Ini untuk memisahkan mereka dari kampung Yahudi.

UUD Israel memang menyebutkan: orang Yahudi dari mana pun yang mau da­tang ke tanah Palestina disediakan rumah, mobil, dan keperluan hidupnya. Sejak itu perkampungan Yahudi terus dibangun di tanah Palestina.

Orang-orang Palestina sendiri untuk bisa keluar dari kampungnya harus le­wat pos penjagaan ketat. Atau me­lon­cati pagar.

Untuk datang ke Masjid Al Aqsa, misalnya, mereka menempuh tiga risiko. Pertama, bagaimana bisa keluar kampung dengan meloncat pagar.

Kedua, bagaimana bisa berjalan kaki jauh, naik turun bukit, untuk mencapai Al Aqsa. Bisa saja di tengah jalan me­reka ditangkap.

Ketiga, bagaimana dengan KTP hijau bisa melewati penjagaan tentara ber­senjata di gerbang masuk Baitul Maq­dis. Israel menduduki tanah Palestina sejak 1947/1948. Waktu itu kawasan ini men­jadi jajahan Inggris. Ketika orang Ya­hudi dimusuhi di mana-mana (ter­utama di Jerman dan Rusia), peme­rin­tah Inggris memutuskan memberikan negara kepada orang Yahudi.

Pilihannya dua. Dua-duanya di wilayah jajahan Inggris: Uganda atau Palestina.

Semula Inggris menentukan Uganda di Afrika. Tapi Yahudi menolak. Me­reka memilih tanah Palestina. Yahudi percaya Yerusalem adalah tanah leluhur me­reka. Sejak itulah tidak pernah ada ke­tenteraman di Timur Tengah.

Pemuda yang loncat pagar itu lantas menyingsingkan celananya. “Lihat, ini,” katanya. Terlihat luka-luka baru masih menyisakan darah yang mulai mengering. Bekas goresan pagar kawat berduri itu terlihat memanjang sampai dekat lututnya.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA