MAKKAH-AQSHA-BAGHDAD (1)

Era Tawaf Dengan Kendaraan Listrik

CATATAN: DAHLAN ISKAN, Menteri BUMN

Rabu, 22 Agustus 2012, 10:24 WIB
Era Tawaf Dengan Kendaraan Listrik
DAHLAN ISKAN

IBADAH memutari Kabah tujuh ka­li (tawaf) dengan kendaraan listrik su­dah jadi kenyataan. Tidak lagi harus jalan kaki, digendong atau di­tandu. Inilah oleh-oleh perjalanan um­rah akhir Ramadhan saya tahun ini ber­sama istri, anak, menantu dan cucu.

Hari itu, 14 Agustus 2012 saya ber­ada di lantai empat Masjid Al Haram. Pa­da jam delapan pagi matahari mu­sim panas sudah terasa menyengat di lantai yang menghadap ke langit itu. Sejak subuh saya memang berada di situ. Menyelesaikan bacaan tiga juz terakhir Al Quran yang 30 juz itu.

Legisan Sugimin, manajer ESQ yang menyertai umrah saya, lantas membacakan doa khataman.

Dengan perasaan lega, kami pun segera turun dengan eskalator yang di dekat Zam Zam. Begitu banyak es­kalator di dalam masjid ini sehingga kalau salah pilih bisa kesasar jauh.

Dari eskalator inilah saya melihat di pelataran kecil di lantai tiga banyak orang seperti latihan naik kendaraan listrik. Mundur-maju-memutar. Ben­tuk­nya mirip kursi roda bermotor. Saya tertarik berhenti untuk melihatnya. Ter­nyata itulah kendaraan listrik untuk ta­waf bagi orang yang tidak kuat ber­desakan jalan kaki mengelilingi Kabah.

Kendaraan model baru ini rupanya laris. Saya hitung ada tujuh orang yang se­dang antre di loket. Ada yang sudah bisa langsung mengendarainya, ada yang masih harus latihan.

Ini tentunya satu kemajuan. Dulu, orang tua atau�"orang yang tidak mam­pu tawaf, harus menyewa orang untuk menggendongnya. Atau memikulnya. Pemandangan seperti itu tidak terlihat lagi sejak lebih lima tahun lalu. Mereka di­bikinkan jalur khusus, seperti so­soran, menjorok dari lantai dua. Di jalur khusus itu mereka dinaikkan kursi roda yang didorong oleh keluarga atau pe­tugas yang dibayar.

Dan sekarang kendaraan listrik meng­­­gantikannya.

Kalau tidak terkait dengan fikih (hu­kum acara ibadah) sebenarnya mem­bahas ini tidak menarik. Tapi fikih ken­da­raan listrik rupanya harus diterima di zaman modern ini. Termasuk penentuan lokasi memutar yang sudah agak di atas Kabah. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu, pernah tawaf di lantai empat yang menghadap langit itu. Tentu po­sisinya juga sudah sangat tinggi. Dari lantai ini Kabah terlihat agak di bawah sana. Meski terhindar dari berdesakan, tawaf di lantai empat ini ternyata justru sa­ngat lama. Satu putaran ternyata hampir 1 km.

Tekanan kian banyaknya jemaah haji (dan umrah) rupanya membuat fasilitas yang ada harus selalu dilipatgandakan. Tempat lempar batu (jumrah) dibikin bersusun. Tempat lari dari bukit Sofa ke bukit Marwa (sya’i) juga dibuat ber­susun. Yang di lantai empat sebenarnya sudah tidak bisa merasakan jerih payah Siti Hajar saat mencarikan air bagi bayi Ismail dengan cara lari bolak-balik menaiki dua bukit itu.

Tahun depan ada lagi yang dibuat ber­susun: pelataran tawaf! Kelak me­mutari Kabah bisa dilakukan di lantai baru. Saya sudah melihat video pe­ren­canaannya. Hebat dan indah. Hebatnya pelataran tawaf susun ini dibuat knock down. Bisa dibongkar pasang dengan ce­pat. Mungkin hanya akan dipasang waktu musim haji atau umrah akhir Ramadhan saja.

Untuk memasangnya hanya di­per­lukan waktu tiga hari. Tanpa meng­ganggu ibadah di sekitar Ka’bah. Te­naga bongkar pasangnya tidak banyak. Sudah lebih banyak meng­gunakan robot. (Untuk melihat videonya, klik: http://s1520.vuclip.­com­/e6/6c/e6 6cfdcba46de7da55415c03c41cf768/ba123207/e66c_w_2.3gp?c=3924 52078&u=1639071217&s=BNirq3 )

Tanpa usaha baru seperti itu lautan manusia yang bertawaf akan tidak ter­tampung. Pada musim haji atau umrah akhir Ramadhan, luapan manusia me­mang luar biasa. Pada hari ke-27 bulan puasa (dipercaya sebagai hari turunnya lailatul qadar, siapa beribadah di hari itu mendapat pahala sebanyak ibadah selama seribu bulan) orang tarawih me­luber ke mana-mana. Jalan-jalan raya terpakai untuk tarawih sampai sejauh 2 km dari masjid.

Masjid yang sudah dibuat empat tingkat, yang halamannya terus diper­luas, yang hotel-hotel di sekitarnya su­dah menyisihkan lantainya untuk salat, masih juga belum cukup. Semua jalan me­nuju masjid menjadi masjid itu sendiri.

Saya lihat Masjid Al Haram kini juga sedang diperluas (lagi). Ada tambahan dua menara baru. Tapi kalau ekonomi negara-negara seperi Indonesia, India, dan Afrika terus berkembang, semua perluasan itu tidak akan cukup juga.

Kelak tidak ada jalan lain kecuali membatasi jumlah orang umrah seperti membatasi orang berhaji sekarang ini. Belum lagi ekonomi negara-negara seperti Uzbekistan, Kazakstan, Turki, dan Tiongkok juga kian maju. Jangan lupa jumlah umat Islam Tiongkok lima kali lipat lebih banyak dari umat Islam se-Malaysia.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA