Duta besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin menilai bahwa laporan yang diajukan sebagai dasar rencana dikeluarkannya resolusi itu tidak berimbang. Laporan itu, lanjut dia, hanya menyoroti kebijakan Presiden Bashar al Assad, dan tidak menyoroti aksi yang dilakukan kelompok oposisi yang juga bersenjata.
"Sayangnya sejumlah anggota komunitas internasional yang memiliki pengaruh telah menutup mata dalam upaya penyelesaian persoalan ini. Mereka meminta perubahan rezim, namun di sisi lain mendorong kelompok oposisi untuk berkuasa," ujar Churkin sebagaimana dilansir
BBC (Minggu, 5/2).
Sementara itu, Duta besar China untuk PBB Li Badong menyebut bahwa resolusi ini kontraproduktif dengan upaya penyelesaian masalah di Suriah.
"Cina menyatakan dalam kondisi seperti sekarang menekan atau memaksakan solusi apapun kepada Suriah tidak akan membantu penyelesaian persoalan di negara itu," kata Dubes China untuk PBB Li Badong.
Penggunaan hak veto Rusia dan China dalam mengagalkan DK PBB untuk mengeluarkan resolusi tentang Suriah ini disambut warga Suriah yang pro pada presiden Assad. Mereka berdalih, seharusnya DK PBB lebih penting dilakukan untuk mengatasi masalah Gaza ketimbang Suriah.
"Apakah tidak ada persoalan yang lebih penting bagi DK PBB ketimbang mengurusi kami. Saya percaya masih ada banyak masalah penting lainnya bagi DK PBB perlu ditangani seperti kelaparan di Somalia dan Gaza," kata salah seorang warga yang pro Assad.
[dem]
BERITA TERKAIT: