Padahal, kemarin (Sabtu, 21/1), Presiden Perancis Nikolas Sarkozy telah mempertimbangkan untuk secepatnya menarik pasukan militer dari Afghanistan.
Bersama dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton, Alain Juppe sepakat untuk bekerja sama dalam memperkuat dan mengefektifkan misi NATO di Afghanistan.
"Hillary dan Juppe sepakat bahwa AS dan Prancis harus bekerja sama dengan mitra ISAF (Pasukan Bantuan Keamanan Internasional yang dipimpin NATO) dan pemerintah Afghanistan untuk menjamin kekuatan dilanjutkan dan mengefektivitaskan misi," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip
AFP (Minggu, 22/1).
Nikolas Sarkozy sempat menangguhkan pelatihan militer Perancis dan operasi tempur bersama dengan pasukan Afghanistan sesaat setelah tentara Afghanistan menembaki tentara Prancis yang menewaskan empat orang dan melukai 15 lainnya. Bakan Sarkozy sempat mempertimbangkan untuk mempercepat penarikan pasukannya dari Afghanistan.
Dari 130 ribu pasukan NATO di Afghanistan, Perancis adalah konstributor terbesar. Jumlah kekuatan sebanyak ini bertugas untuk memerangi Taliban, sebuah kelompok yang memerintah Afghanistan sejak tahun 1996, sebelum akhirnya tumbang pada tahun 2001 akibat invasi NATO. [ysa]
BERITA TERKAIT: