Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli menyebut ada dua penyebab mengapa Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lain. Pertama, karena Indonesia menganut sistem ekonomi neoliberal. Indonesia meyakini sistem neoliberal dapat menjadi jalan keluar untuk mencapai kesejahteraan.
Di Asia, selain Indonesia, cuma Filipina yang menganut dan meyakini sistem ekonomi neoliberal ini. Indonesia dan Filipina pun menjadi dua negara paling payah di Asia dan menjadi dua negara yang sama-sama suka mengirim tenaga kerja wanita ke negara lain.
"Di dalam sistem neoliberal, yang kuat makin kuat dan yang lemah makin lemah. Tidak hanya itu, dalam sistem neoliberal, segala sesuatu diukur pakai uang," kata Rizal Ramli dalam diskusi nasional dan bedah buku "
Pilpres Abal-Abal, Republik Amburadul" di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur (Rabu, 7/12).
Rizal Ramli pun mencontohkan negara yang berhasil melepaskan diri cari cengkeraman neoliberal ini. Brazil salah satunya. Dalam jangka waktu delapan tahun, Brazil berubah dari negara yang miskin menjadi negara yang kuat. Dalam jangka waktu delapan tahun juga Brazil berhasil menciptakan lapangan pekerjaan sehingga rakyatnya tidak menganggur.
"Kenapa Brazil bisa maju? Karena presidennya berani mengambil kebijakan ekonomi yang tidak neoliberal, tidak menyerahkan kepada pasar. Tidak seperti yang dilakukan oleh SBY dan Marie Elka Pangestu yang sangat pro-liberalis," kata Rizal.
Dalam hal ini Rizal pun menyebut poin kedua penyebab Indonesia masih tertinggal. Yaitu soal kepemimpinan. Hanya pemimpin yang berani dan tegas, yang mampu meningkatkan kesejahteraan negaranya.
"Pemimpin, kalau di negara berkembang, seperti di Indonesia, masih ngawur," tegas Rizal.
"Kita memberikan kesempatan kepada SBY-Boediono untuk memperbaiki diri. Kalau tidak bisa diubah maka lewat kasus-kasus kriminal yang dibiarkan seperti kasus Century, Antasari dan rekayasa KPU, maka mereka akan menjadi presiden yang pertama diadili untuk memberikan efek jera kepada pemimpin berikutnya," demikian Rizal.
[ysa]