"Saya ke sana itu sebelum jembatan (Kutai Kertanegara) itu runtuh," kata Nudirman kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini (Rabu, 30/11).
Meski begitu, belum lama ini, politisi Partai Golkar itu mengakui pernah bertemu salah seorang calon, yaitu Yunus Hussein. Mereka bertemu dalam acara halal bi halal yang digelar Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Jadi bukan pertemuan secara berdua. "Kami berdua alumnus Fakultas Hukum," akunya.
Dalam pertemuan itu, beberapa temannya sesama alumnus Fakultas Hukum meminta agar Yunus Hussein diloloskan. Karena itulah, Nudirman mengaku dilema dalam menentukan sikap terhadap Yunus. Apalagi, Yunus merupakan sekretarisnya saat Nudirman menjadi Ketua Senat Fakultas Hukum. "Saya memang agak dilema ini," katanya sedikit tertawa.
Meski begitu, dia yakin Yunus pasti punya konsep bila memimpin lembaga anti korupsi itu dengan pengalaman sebagai mantan kepala Kepala Pusat Pelaporan dan Analisa Keuangan. Tapi, bila pun tidak terpilih, Nudirman juga yakin, bahwa Yunus pasti bisa menerima kalau memang itu karena kepentingan negara.
"Tapi yang jelasnya, kita tunggulah bagaimana dia nanti saat menyampaikan visi-misi," tandas Nudirman sambil mengaku akan objektif dalam menilai Yunus yang hari ini akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan.
[zul]
BERITA TERKAIT: