Direktur Indonesia Strategic Solution, Adhan Anwar, menjelaskan, data itu didapatkan dari hasil penelitian kepada TKI yang baru tiba di tiga tempat di Indonesia, tepatnya di Terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Juanda, dan Mataram.
Â
"Tiga bandara itu merupakan tempat paling banyak TKI. Kami menyebarkan kuesioner ke lebih dari 600 responden," tuturnya lewat keterangan tertulis yang diterima petang ini (Selasa, 18/10).
Menurut Adhan, dari 600 responden ternyata sebanyak 70 persen berpendidikan SD yang sebagian besarnya adalah perempuan. Lebih parah lagi, lanjut Adhan, sebanyak 60 persen para TKI ini di luar negeri tanpa adanya kontrol dari pemerintah.
"Dengan kata lain mereka di luar negeri berjalan sendiri tanpa adanya pendampingan dari Kemenlu dan kementrian terkait lain," imbuhnya.
Atas hal tersebut, menurutnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mengevaluasi kerja-kerja Kepala BNP2TKI supaya komitmen pemerintah terhadap perlindungan TKI menjadi maksimal.
"(Karena) rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) calon TKI, hampir 60 hingga 70 persen pendidikan mereka Sekolah Dasar (SD). Masih lemahnya kontrol terhadap
medical chek up bagi calon TKI, sehingga baru satu hingga dua bulan ribuan TKI sudah dipulangkan karena sakit dan tidak bisa bekerja, serta lemahnya pelatihan keterampilan di Balai Latihan Kerja tempat pembekalan calon TKI. Hal itu bisa dilihat dengan tidak terampilnya TKI yang bekerja di luar negeri," tandasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: