Hal itu merupakan bukti nyata bahwa pemerintah tidak serius dengan kebijakan diversifikasi pangan untuk menuju kemandirian dan kedaulatan pangan nasional. Demikian disampaikan anggota DPR Komisi IV, Ma'mur Hasanuddin, menanggapi data BPS soal impor pangan yang menyebut selain beras, Indonesia masih mengimpor komoditas jagung dan singkong.
"Kebijakan diversifikasi pangan yang didengung-dengungkan pemerintah selama ini seperti hanya permainan dan merupakan omong besar belaka," katanya dalam pernyataan pers yang diterima
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Senin, 8/8).
Untuk impor jagung pada lima bulan pertama di tahun 2010 tercatat 600 ribu ton. Keadaan terulang di tahun 2011, yang bukannya menurun, malahan impor jagung naik yang diperkirakan total impor jagung 2011 sebesar 2 juta ton.
"Jagung merupakan produk pangan alternatif setelah beras. Namun jika produk yang menjadi alternatif masih impor, maka program diversifikasi tersebut seperti kendaraan yang tak beroda," jelas politisi PKS ini yang juga anggota Panja RUU Pangan ini.
Begitupula dengan singkong, yang merupakan alternatif beras setelah jagung, ternyata impor dari China dan Itali sepanjang semester I tahun 2011.
Seperti dirilis beberapa media merujuk data BPS, Indonesia mengeluarkan dana terbesar untuk ubi kayu kepada Italia yaitu US$ 20,64 ribu dengan berat 1,78 ton. Sedangkan Cina merupakan negara penyuplai ubi kayu impor terbesar yaitu 2,96 ton dengan nilai US$ 1.273.
Dia katakan, dengan fakta itu berarti kedaulatan pangan nasional saat ini seolah masih jauh dari harapan. Semua makanan pokok mulai dari beras, jagung maupun singkong masih berasal dari negara lain.
"Ini menunjukkan betapa tanah subur nusantara kita ini, begitu dilecehkan dengan kebijakan impor yang makin jauh dari tujuan fundamental meraih predikat negara yang berdaulat akan pangan," ucapnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: