"Pertama, Marzuki Alie tidak realistis. Marzuki cenderung emosional dalam melihat persoalan yang ada. Ada dugaan dia mempersoalkan institusi KPK karena kejengkalannya melihat KPK mengusut tuntas kasus Nazaruddin," tegas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay petang ini.
Saleh pun meminta Marzuki Alie untuk membedakan antara personel pimpinan KPK dengan lembaga KPK itu sendiri. Pentolan KPK, boleh saja tersandung kasus hukum atau etika dan memang harus diberi sanksi yang setimpal. Tapi bukan berarti KPK-nya harus dibubarkan.
"Harus diingat saat ini masih terjadi praktik korupsi secara besar-besaran. Karena itu KPK masih sangat diharapkan. Bagaimana memberantas korupsi kalau KPK dibubarkan. Itu sama saja Marzuki memberikan peluang kepada orang untuk korupsi," tandasnya.
Usulan Marzuki Alie agar para pelaku korupsi masa lalu dimaafkan, lalu akan dihukum mati bila tetap korupsi juga tidak masuk akal. Kata Saleh, siapa pun orang yang pernah melanggar hukum, harus diberi hukuman yang setimpal. Sedangkan perlunya hukuman mati, Saleh mempertanyakan lembaga apa yang melaksanakannya, kalau memang seperti diakui Marzuki tidak ada lagi orang yang kredibel dan KPK sendiri dibubarkan.
Karena itu, Saleh menilai, pendapat Marzuki Alie ini bertentangan dengan semangat Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat yang juga Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. SBY jelas menegaskan, bahwa akan berada di depan dalam melakukan pemberantasan korupsi.
"Malah sekarang Marzuki Alie menyarankan agar KPK dibubarkan," demikian Saleh.
[zul]
BERITA TERKAIT: