CAPRES INDEPENDEN

Ketum Pemuda Muhammadiyah Luruskan Pemberitaan di Situs Irman Gusman

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Kamis, 28 Juli 2011, 17:03 WIB
Ketum Pemuda Muhammadiyah Luruskan Pemberitaan di Situs Irman Gusman
Saleh P Daulay/ist
RMOL. Pemuda Muhammadiyah tidak pernah menyatakan dukungan atas wacana diperbolehkannya calon presiden perseorangan untuk maju pada pemilihan presiden 2014 mendatang, yang menjadi salah satu usulan Dewan Perwakilan Daerah.

"Soal Capres independen, waktu itu kita nyatakan perlu dikaji serius. Bukan menyetujui. Setelah kita kaji, ternyata capres independen itu mudharat-nya lebih besar. Karena itu, isu ini sangat prematur untuk diperdebatkan ke publik," kata Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay kepada Rakyat Merdeka Online petang ini.

Saleh mengatakan itu meluruskan pemberitaan yang dimuat di situs pribadi Ketua DPD Irman Gusman yang beralamat di www.irmangusman.com.

Di situ disebutkan, Ketua DPD RI Irman Gusman menerima kunjungan delegasi PP Pemuda Muhammadiyah di ruang kerja Ketua DPD RI, gedung Nusantara III lantai 8, komplek Parlemen RI, Jakarta, pada tanggal 12 April 2011. Delegasi yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhamadiyah Saleh P. Daulay menyampaikan dukungannya secara langsung terkait tiga isu penting, yakni amandemen UUD 1945, calon presiden perseorangan, dan penguatan peran dan fungsi DPD RI dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Saleh menjelaskan, ada empat alasan pihaknya menolak capres independen ikut bertarung pada Pilpres 2014 mendatang.

"Pertama, pemilih di Indonesia tidak semua well educated voter. Kedua, potensi konflik capres independen semakin besar karena banyaknya calon dan kepentingan yang muncul," urainya.

Alasan ketiga, masih kata dosen FISIP UIN Jakarta ini, capres independen ini dapat ditunggangi pihak asing untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia.

"Keempat, capres independen dapat mengurangi peran partai politik dalam sistem demokrasi di Indonesia. Padahal, sejatinya partai politik digunakan sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan para pemimpin bangsa, selain tugas rutinnya untuk memberikan pendidikan politik bagi rakyat," tandasnya. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA