Pada saat menyampaikan orasi kebangsaan di tengah perayaan ulang tahun Surya Paloh (Sabtu, 16/7), mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, menohok kepemimpinan SBY dengan kritik tajam. Menurutnya, dengan kondisi pemimpin yang sekarang ini, maka rakyat Indonesia sudah saatnya mentalak tiga presidennya.
Di kemudian harinya (Minggu, 17/7), dalam rapat akbar memperingati Harlah NU ke-85 di Stadion Bung Karno, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, menegaskan bahwa pemerintah telah berhasil dalam pembangunan ekonomi. Pemerintah dianggapnya berhasil dalam ekonomi karena cadangan devisa negara dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat.
Perbedaan mencolok sikap kedua tokoh Islam itu dianggap pengamat politik senior, Muhammad AS Hikam, sebagai hal yang lumrah dan mencerminkan tradisi politik di masing-masing organisasi. Tegasnya, Muhammadiyah dan NU punya cara kritik yang berbeda terhadap pemerintah.
"Cara kritik NU dan Muhammadiyah agak berbeda. NU lebih santun tidak vulgar," kata AS Hikam kepada
Rakyat Merdeka Online (Senin, 18/7).
Dalam pandangannya, pernyataan Syafii Maarif yang menyebut pemerintah harus ditalak tiga, jelas politis dan mengambil jarak terhadap pemerintah. Seolah pria bersapaan Buya Syaffi itu menganggap dirinya sebagai politisi.
"Saya kira itu terlalu berlebihan atau
lebay. Mendingan dia (Syaiffi Maarif) jadi anggota Parpol. Tapi kalau kritik tajam mengenai moralitas atau pemerintah tidak laksanakan amanah rakyat, sah saja. Tapi bagian yang talak tiga itu terlalu
lebay," tegasnya.
Sedang soal NU yang bersikap manis pada pemerintah, Hikam tidak memungkiri bahwa secara kultural NU tidak memiliki tradisi melontarkan kritik pedas pada pemerintah. Itu sekaligus menunjukkan bahwa NU tidak pernah berambisi terjun dalam politik praktis.
[ald]
BERITA TERKAIT: