"Posisi Rano saya perkirakan secara khusus difungsikan pada dua hal," kata pengamat politik Gandung Ismanto kepada
Rakyat Merdeka Online petang ini.
Kedua fungsi itu adalah sebagai "pencuri" suara di kantung-kantung pendukung calon gubernur dari Partai Demokrat, Wahidin Halim WH dan sebagai penyisir suara di daerah lain, khususnya suara-suara pemilih dari kalangan bawahan yang 'tak tergarap' oleh Atut.
"Karena secara politik, posisi Atut tidak lebih baik dibanding (Pilgub) 2006. Karena sebagai
incumbent, ia dinilai berkinerja buruk bahkan gagal. Dan ini cukup efektif mempengaruhi dukungan beberapa segmen pemilihnya dulu," teranganya.
Dalam konteks inilah, papar dosen FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini, Rano Karno dibutuhkan sebagai
vote getter yang efektif untuk mendongkrak suara Atut yang cenderung turun.
"(Keberadaan Rano) sekaligus sebagai mesin cuci yang efektif bagi citranya (Atut) yang negatif. Hanya saja, saya perkirakan pengaruh dan kontribusi Rano tidak akan sebesar Masduki (wakil gubernu Banten) pada (Pilgub Banten) tahun 2006," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: