Unjuk Rasa di Malaysia Telah Memakan Korban Jiwa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Minggu, 10 Juli 2011, 14:31 WIB
Unjuk Rasa di Malaysia Telah Memakan Korban Jiwa
ilustrasi/ist
RMOL. Unjuk rasa menuntut Perdana Menteri Malaysia Najib Razak agar segera membuat UU pemilu yang lebih adil dan transparan telah memakan korban jiwa.

Kelompok oposisi mengatakan bahwa seorang laki-laki peserta unjuk rasa yang menuntut reformasi pemilu di Malaysia dilaporkan tewas saat unjuk rasa tersebut digelar. Pihak Partai Aksi Demokrasi (DAP) mengatakan bahwa peserta unjuk rasa yang meninggal tersebut bernama Baharudin Ahmad yang meninggal akibat gangguan pernapasan.

Diduga Baharudin Ahmad mengalami ganguan pernapasan setelah pasukan anti huru hara Malaysia menembakan gas air mata ke arah pengunjuk rasa. Sekjen DAP, Lim Guang Eng, dikabarkan akan mengunjungi keluarga korban untuk menyampaikan bela sungkawa.

Sedangkan Juru bicara kepolisian Malaysia, Ramly Mohammad Yusuf, membenarkan kematian Baharudin Ahmad itu. Namun, kepolisian mengatakan Baharudin adalah seorang pejalan kaki yang meninggal dunia akibat serangan jantung.

"Kematian dia (Baharudin) tidak ada kaitannya dengan (pencegahan) aksi demonstrasi. Dia meninggal dunia akibat serangan jantung karena tak ada luka lain ditubuhnya," kata Ramly Mohammad seperti dikutip AFP (Minggu, 10/7).

Sementara itu, 1667 pengunjuk rasa yang ditahan, termasuk anggota parlemen dan pemimpin unjuk rasa, telah dibebaskan polisi pada sabtu tengah malam ketika unjuk rasa sudah dibubarkan. Sedangkan Anwar Ibrahim mengalami luka di bagian kepala dan kaki akibat terjatuh dalam unjuk rasa itu dan harus dirawat di rumah sakit. Kini kondisi di Kuala Lumpur berangsur-angsur mulai membaik.

Dalam aksi tersebut, kelompok oposisi mengklaim ada sekitar 50 ribu orang turu ke jalan dan merupakan aksi terbesar di Malaysia sejak 1997. Namun demikian, pihak kepolisian Malaysia memperkirakan jumlah peserta unjuk rasa hanya berkisar angka 10 ribu orang saja. [yan]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA