Apapun bahasanya, Pramono memang pantas menduduki jabatan barunya itu, walaupun ada beberapa anak bangsa yang lain, yang sempat menjadi kandidat.
"Beliau punya runtutan perjalanan karir yang panjang, jadi wajar kalau beliau menerima posisi itu. Beliau sudah cukup layak dengan segenap jabatan yang pernah diembannya," ujar Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM Banteng Kedaulatan, Irwansyah, kepada
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Kamis, 30/6).
Sejumlah karir dan prestasi kemiliteran pernah disandang Pramono. Diantaranya, pernah menduduki satuan tempur elit, yaitu Kopassus dan Kostrad, di satuan teritorial sebagai Kasdam Diponogoro dan Pangdam Siliwangi, menjadi staf ahli TNI dan menjadi ajudan Presiden Megawati.
Prestasi-prestasi itulah, sambung Irwansyah, jadi bukti kalau bahasa duduknya beliau karena nuansa nepotisme, yang antara lain disampaikan oleh Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti, terbantahkan.
"Pendapat dia (Ray Rangkuti) sangat mengada-ada. Dia menganalisa masalah tidak berdasarkan fakta. Bahasa nepotisme yang dimunculkannya sebagai bentuk ketidakmampuan dia dalam memberikan analisa secara objektif," imbuhnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: