Saat itu, kegaduhan meliputi suasana dialog terutama karena disebabkan ulah para anggota Dewan yang "pelesiran". Anggota Komisi VIII dinilai lebih banyak tidak memberikan penjelasan memuaskan kepada mahasiswa yang mengikuti dialog. Beberapa jawaban Dewan bahkan dianggap ngawur dan tidak berbobot. Merasa tidak puas dengan hasil pertemuan dalam waktu yang amat terbatas itu, para peserta audiensi meminta alamat email resmi. Soal itu pun, para peserta tidak mendapat jawaban yang serius, para anggota Dewan malah panik dan saling bertanya di antara mereka tentang alamat email resmi mereka.
Seluruh kejadian memalukan di dalam dialog itu disebarkan Anggota PPIA lewat surat elektronik dan dapat disaksikan pula lewat
Youtube. Insiden memalukan itupun mendapat reaksi tajam dari masyarakat di dalam negeri. Satu lagi sisi hitam DPR terungkap di negeri asing.
Sebagai salah satu partai politik yang mayoritas di DPR dan kebetulan kadernya (Zulkarnaen Djabar) ikut dalam kunjungan ke Negeri Kangguru itu, Golkar seharusnya merasa ikut malu dan tertampar atas insiden tersebut.
"Kasus Komisi VIII di Australia adalah tamparan memalukan bagi Golkar juga," ujar politisi senior Golkar, Zainal Bintang, kepada
Rakyat Merdeka Online, Kamis (5/5).
Menurut mantan Ketua DPP Golkar ini, kejadian tersebut berpotensi menggagalkan kerja keras Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, membangun citra Golkar di masyarakat.
Karena itu Bintang menyarankan, Partai segera membentuk Tim Investigasi dan Evaluasi Kualitas Intelektual dan Perilaku Kader Golkar, supaya kerja keras Ketua Umum Golkar itu tidak sia-sia.
"Perlu dibentuk tim dimaksud untuk mendukung kerja keras Ketum Golkar membangun citra Golkar. Upaya Ketum jangan sampai kontraproduktif dan Golkar jadi cemoohan dan nista," tegasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: