Sedangkan sang istri, ketua umum partai wong cilik itu, Megawati Soekarnoputri, dipersepsikan sebagai orang idealis yang teguh memegang amanat kongres, makanya tak mau PDI Perjuangan di tarik ke barisan partai pendukung pemerintah.
Padahal, baik Taufiq dan Mega sama-sama konsisten memegang ideologi partai. Meski, Taufiq dalam beberapa hal memiliki cara sendiri dalam melakukan komunikasi politik dengan partai lain, termasuk dengan pemerintah.
"Itu (sikap Taufiq) tidak bertentangan (dengan garis partai). Cuman dia punya cara berbeda dalam mengkomunikasikan politiknya. Tapi soal keyakinan, ideologi sama. Kalau nggak sama (dengan Mega), masak bertahun-tahun bisa suami istri," ujar Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Pareira saat bertandang ke redaksi
Rakyat Merdeka Online di Graha Pena, Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan petang tadi.
Meski tidak secara langsung, dia membandingkan Taufiq Kiemas dengan Bung Karno dalam berpolitik. Dia menjelaskan, Bung Karno memiliki dua sisi dalam hal politik.
"Sampai tahun 50-an, dia (Bung Karno) seorang revolusioner-ideologis. Tapi tahun 50-an kesini, dia itu oang yang
zon politicon. Dia bermain dengan realitas, tapi tetap berpegang dengan garis ideologi. Memang pada titik tertentu (Bung Karno) memang harus kalah dengan situasi pada tahun 60-an," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: