Namun karena bukan situasi ideal, Wakil Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuzy memakai matematika sederhana untuk membuat hitung-hitungan politik partai koalisi, yaitu, 6 - 2 + 2 = 6. Artinya, jika keluar 2 partai, masuk 2 partai. Tapi, bila keluar 1 partai, masuk 1 partai.
"Namun mengingat potensi resiko meletakkan Partai Golkar di luar kabinet, perlu pertimbangan yang masak untuk melangkah lebih jauh. Inilah yang tercermin dengan kalimat Presiden (SBY) kemarin, 'satu-dua parpol melanggar kesepakatan koalisi'," kata politisi muda PPP ini dalam siaran pers yang diterima
Rakyat Merdeka Online malam ini.
Kalau memang SBY sudah
firm bahwa dua partai politik positif akan ditendang dari pemerintahan, tentu kalimatnya menjadi, "dua partai politik langgar kesepakatan koalisi".
"Tapi dengan frasa 'satu-dua' itu, dugaan saya SBY masih menimbang posisi PG.
Selanjutnya, kalimat 'langgar kesepakatan koalisi', berarti betapapun dibantah oleh parpol 'satu-dua' ini, evaluasi SBY sudah final. Kunci selanjutnya, tinggal menunggu kesediaan PDIP," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: