Menko Perekonimian di era Gus Dur, Rizal Ramli misalÂnya, mengaku tak bisa melupakan Gus Dur.
“Gus Dur, orang yang terus menerus memperjuangkan pluralisme untuk setiap rakyat Indonesia. Tidak peduli suku, agama, dan ras. Mereka memiliki hak-hak yang sama sebagai warga negara,†ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Rizal menjabarkan berbagai prestasi Gus Dur saat menjadi Presiden. Kata dia, Gus Dur membebaskan tahanan politik dan keluarganya, termasuk bekas keluarga PKI untuk bisa kembali ke Indonesia. Gus Dur juga memberikan pengakuan terhadap hak-hak minoritas yang lama terabaikan.
Berikut kutipan wawancara selengkapnya:
Apa hanya itu saja prestasi Gus Dur yang bisa Anda keÂnang?
Bukan itu saja. Untuk hal yang penting bagi rakyat adalah demokrasi dan pluralisme. Gus Dur tidak takut mengorbankan popularitasnya, termasuk untuk berbeda pendapat dengan paraÂdigma maupun pola pikir yang dominan pada waktu itu. Gus Dur juga orang yang berbicara apa adanya, sering menimbulkan kontroversi karena keyakinannya yang sangat besar, bahwa perÂbedaan pendapat adalah bagian penting dari demokrasi.
Berdekatan dengan Gus Dur, tidak ada batasan-batasan formal maupun birokratis. Misalnya, Istana Merdeka selalu terbuka untuk siapa saja. Betul-betul menjadi istana rakyat. Sebab, rakyat biasa, dan kiai-kiai dengan pakaian seadanya bisa bertemu dengan Presiden Gus Dur dengan sangat mudah.
Oh ya, apa saja yang menÂjadi kenangan Anda dengan peÂÂringaÂtan Haul satu tahun Gus Dur?
Ada beberapa hal yang baik untuk dikenang.
Apa itu?
Pertama, saya merasa bangga dan bersyukur pernah bekerja dengan Gus Dur. Yang disebut orang sebagai Wali ke-10. MeÂnurut ahli-ahli Islam, Gus Dur memiliki pengaruh dan wawasan yang lebih luas dibanding keÂsemÂbilan wali sebelumnya. Kedua, ketika Gus Dur berkuasa, saya pernah meminta hadiah gelar “Gusâ€. Gus Dur dengan berÂcanda mengatakan, “sulit, tapi bukan tidak mungkinâ€. Syukur bahwa dua bulan yang lalu, Ikatan Alumni Pesantren Tebu Ireng memberikan gelar “Gus†kepada saya. Yang jauh lebih sulit dari gelar Sarjana dan Master.
Ketiga, selain Gus Dur adalah kiai yang unggul, dia adalah tokoh multi bahasa, multi linier dan sense of humor yang luar biasa. Banyak orang pandai tapi linier. Sedangkan, Gus Dur adaÂlah tokoh multi-linier yang fasih membaca puisi bahasa Arab, senang sekali musik qasidah, seÂring mengucapkan shalawat Nabi.Tapi juga penggemar musik klasik terutama Beethoven.
Gus Dur itu kan sering memÂbuat lelucon dalam segala hal. Adakah lelucon itu yang memÂbuat Anda tersinggung?
Saya sih selama ini sih, mengÂanggap (lelucon) itu menyeÂnangkan. Tapi beliau berani melaÂkukan terobosan. Kedua, berani berpikir di luar ortodoks. Nah, beÂliau pernah menjelaskan kepada saya, bahwa rakyat kita ini mayoÂritas, hati itu lebih meÂnenÂtukan. Barangkali hanya 20 persen yang rasional.
Nah, yang mayoritas ini harus didekati dengan hati. Sehingga lelucon dan joke-joke itu salah satu caranya. Memang dasarnya, dia orangnya lucu. Ada saja yang dibuat. Jadi, begitu ada suasana yang tegang menjadi encer kan. Kalau dipanggil ceramah, ada satu atau dua lelucon yang diÂsampaikan.
Menurut Anda, apakah Gus Dur pantas mendapat gelar pahÂlawan?
Tentu.
Alasannya?
Gelar pahlawan untuk Gus Dur bukan karena beliau bekas PreÂsiden. Tapi memang perjuangan Gus Dur untuk menegakkan demokrasi dan pluralisme sudah dimulai sejak muda. Yakni, pada masa otoriter Orba, tidak banyak tokoh yang berani memperÂjuangÂkan demokrasi dengan segala risikonya.
Tapi hanya Gus Dur yang beÂrani memperjuangkan itu. Karena pada waktu itu pemerintah sangat khawatir dengan perjuangan demokratisasinya. Gus Dur pun dijegal. Agar tidak terpilih menÂjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya tahun 1994.
Bagaimana Anda melihat perpecahan PKB, antara Yenny Wahid dan Muhaimin IskanÂdar?
He he he. Saya paling nggak enak mengomentari itu. Karena saya dekat sekali sama semuanya.
Maksudnya?
Saya dekat sama Yenny, Lily, dan Muhaimin. Jadi, jangan saya lah yang diminta komentar tenÂtang itu.
Tapi Gus Dur kan tidak mau kalau PKB pecah. Adakah peÂtuah yang pernah disampaikan Gus Dur kepada Anda terkait PKB?
Sebetulnya gini, Gus Dur itu kan mewariskan PKB kepada generasi berikutnya. Waktu itu jumlah suara PKB sampai 13 persen lebih. Tapi sangat memÂprihatinkan bahwa ternyata waÂrisan ini bakal habis dan hilang. Karena terlalu banyaknya perÂpecahan yang terjadi di PKB.
Banyak wadah NU dan PKB di daerah-daerah, kalau ketemu saya mengatakan, sebetulnya mereka sangat sedih dengan itu (PKB pecah). Kalau tidak ada rekonÂsiliasi, saya khawatir tahun 2014 mungkin suara PKB nggak ada yang lolos. Jadi, sayang sekali kalau warisan yang diÂbangun dengan susah payah itu hanya dalam satu generasi bisa hilang.
Apa imbauan Anda kepada mereka?
Kepada semuanya. Pertama, sama-sama harus membuat satu langkah. Kedua, legalitas kepada kekuasaan itu jangan terlalu berlebihan.
Langkah-langkahnya seperti apa?
Ya, kalau semua menjadi Ketua Umum kan repot dong. Saya prihatin, karena yang muda-muda itu loyalitas pada kekuasaan meÂlebihi segala-galanya. [RM]
BERITA TERKAIT: