GBPH Prabukusumo: Perjuangkan Harga Diri Bapak Saya Melalui Hamengku Buwono Institute

Jumat, 10 Desember 2010, 00:39 WIB
GBPH Prabukusumo: Perjuangkan Harga Diri Bapak Saya Melalui Hamengku Buwono Institute
RMOL.Setelah mundur dari Partai Demokrat, GBPH Prabukusumo segera mendirikan Hamengku Buwono Institute demi memperjuangkan harga diri Bapaknya Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

“Saya terus memperjuangkan harga diri Bapak saya yang di­injak-injak ini,’’ ujar adik kan­dung Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Prabuku­sumo, kepada Rakyat Merdeka via telepon dari Yogyakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda mau mendiri­kan Hamengku Buwono Ins­titute?

Ya, untuk menggali pemikiran almarhum Bapak saya demi memperjuangkan harga dirinya. Begitu juga dengan pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono X di segala bidang. Ini tentu akan ber­manfaat bagi masyarakat.

Selain nanti mengelola Insti­tute ini, apa lagi yang Anda ker­­­ja­kan?

Saya akan berkonsentrasi se­bagai Ketua KONI.

O ya, apa pengunduran diri Anda sudah disetujui DPP Par­tai Demokrat?    

Belum ada surat dari DPP. Nggak pakai surat juga nggak apa-apa, saya sudah mundur kok. Lagi­pula surat saya juga belum sampai.

Apakah ada reaksi Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada Anda?

Nggak ada. Kalau dilihat di in­ternet, katanya sih sangat menya­yangkan kalau saya mundur.

Kalau petinggi Partai Demo­krat lainnya?

Tentu reaksinya beragam. Banyak yang memahami saya mengundurkan diri.

Anda kecewa dengan kondisi ini?

Saya bukan tipe pendendam. Mungkin itu jalan hidup saya.

Apa Anda pernah diajak bi­cara terkait RUUK DIY?

Selama ini saya belum pernah diajak bicara tentang RUUK DIY. Seolah-olah saya nggak ada. Kan bisa diajak bicara, tapi ini tidak.

Nggak khawatir kalau dinilai negatif dengan pengunduran diri itu?

Buat apa khawatir. Saya mau dikata-katain apa saja, monggo saja. Saya menerima dengan se­nang hati.

Apa Anda mendapat SMS dari Presiden?

Saya nggak tahu. Sebab, di telepon genggam saya ratusan SMS yang mendukung saya mundur dari Partai Demokrat. Yang mendukung itu dari Sabang sampai Marauke. Teman-teman saya yang tidak pernah ketemu mencari-cari nomor saya untuk memberi dukungannya.

Anda terlihat kurang suka dengan pernyataan bahwa ti­dak ada monarki di negeri ini dan tidak ada darah biru, apa betul begitu?

Kami ini kan tidak bisa me­milih lahir di mana. Kalau boleh memilih, saya akan milih yang lebih sejahtera. Padahal, yang namanya perbedaan manusia tergantung ketaqwaannya pada Tuhan dengan Agama manapun. Siapa yang lebih taqwa itulah yang lebih luhur, dibanding orang yang kurang taqwa.

Apa Anda tersinggung bahwa Fraksi Partai Demokrat di DPRD DIY menyetujui pemili­han Gubernur melalui pemili­han?

Di sini ada per­bedaan politik. Kalau dibandingkan pertikaian politik harganya jauh lebih besar dengan sejarah.

Petinggi Partai Demokrat menyatakan bahwa SBY sangat menghormati keistimewaan Yogyakarta, pendapat Anda?

Keistimewaan yang disampai­kan itu hanya iming-iming. Seharusnya pemerintah lebih peka dan paham mendengar hati rakyat seperti apa dan bagaimana. Itu tidak pernah ada.

Apa benar SBY dengan Sul­tan diadu terkait RUUK DIY itu?

Masyarakat tidak bodoh, bisa melihat apa yang sesungguhnya  terjadi. Kalau memang ada niat menyelesaikan masalah ini, kan bisa dibicarakan dengan keter­bukaan hati antara Pak SBY dengan Sultan.

Jadi, monggo keterbukaan hati berdua. Sebab, semuanya harus punya niat baik untuk Keistime­waan DIY ini. Kalau landasannya seperti itu akan selesai. Tapi kalau tidak dilandasi dengan hati yang baik oleh pemerintah, ini akan berbahaya sekali. [RM]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA