“Daripada dijual kepada pihak swasta, tentu lebih bagus dibeli Pemkot Blitar dan Jawa Timur. Kami senang saja, yang penting Istana Gebang Blitar itu sudah ada yang mengurus,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Rumah yang berdiri di atas tanah 1,4 hektar di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan, itu dibeli dari pihak ahli waris, Ny Soekarmini Wardojo, kakak Bung Karno dengan harga Rp 35 miliar. Dana sebanyak Rp 25 miliar diambil dari APBD PemÂprov Jatim dan Rp 10 miliar dari APBD Pemkot Blitar.
Sebelumnya, ahli waris Ny Soekarmini Wardojo mematok harga jual Istana Gebang, yang dikenal warga sekitar dengan sebutan Dalem Gebang, senilai Rp 50 miliar. Tapi setelah tawar-menawar akhirnya menjadi Rp 35 miliar.
Sukmawati selanjutnya meÂngaÂtakan, pihaknya merasa seÂnang karena dibeli Pemko Blitar dan Jawa Timur, apalagi di situ akan dibangun cagar budaya.
“Yang penting Istana Gebang itu tidak dipindahtangankan ke pihak asing. Kalau ke pihak asing tentu kami nggak senang,’’ ujarnya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana kalau dibeli swasta?
Tentu nggak senang dong, kan berbeda kalau dibeli Pemkot Blitar dan Jawa Timur berarti masih milik rakyat. Jadi, saya senang dong kalau sudah dijual ahli warisnya.
Kenapa bukan anak-anak Bung Karno yang menjadi ahli warisnya?
Ahli warisnya kan dari AlmarÂhumah Ibu Wardoyo (kakak peÂrempuannya Bung Karno). Bung Karno sudah rela menyeÂrahkan rumah itu ke kakak peÂremÂpuannya.
Kenapa sih rumah Bung Karno harus dijual?
Eh, itu kan soal yang menguÂrus, siapa yang mau tinggal di situ dan mengurusnya. Semuanya tinggal di Surabaya dan Jakarta. Ya, udah nggak ada yang mau ngurus rumah di Blitar.
Ada yang bilang penjualan rumah Bung Karno disebabÂkan tidak memiliki biaya peraÂwatan, renovasi, dan pembayaÂran PBB, apa betul begitu?
O, saya nggak tahu tentang keluarga mereka. Ya, udah kerja samanya kan sama Pemkot. Jadi, bagus dong. Artinya, asetÂnya kan masih milik Indonesia. Ya, udah jangan diperpanjang maÂsalah itu.
Ketika rumah Bung karno mau dijual, apa sebelumnya mengontak ke anaknya Bung Karno?
Nggak ada, sudah terserah saja.
O ya, bagaimana komentar Anda ditolaknya gelar pahlaÂwan untuk Soeharto?
Ya, udah kan ditolak. Betul itu, gitu lho.
Kenapa Anda setuju dengan penoÂlaÂkan itu?
Ya dong, kan nggak layak untuk Soeharto diberi gelar pahÂlawan. SeÂbab, di era keÂpeÂmimÂpiÂnanÂnya baÂnyak peÂlanggaÂran hak asasi manusia.
Barangkali ini penundaan saja, mungkin beberapa tahun lagi bisa mendapat gelar pahÂlawan, komentar Anda?
Saya sebagai pribadi dan kader-kader PNI Marhaenisme tetap nggak setuju. PNI pernah menÂjadi korban saat pemerintah Soeharto. Jadi, ini memperÂlihatÂkan bukan hanya keluarga Bung Karno saja yang menjadi korban, tapi juga partai politik.
Apa Anda pernah mengirim surat kepada Presiden SBY agar tidak diberikan gelar pahlawan kepada Soeharto?
Nggak pernah kirim surat. Kita lihat-lihat situasi saja. Tapi terÂnyata sudah ditolak, ya udah.
Bagaimana hubungan Anda dengan anak-anak Soeharto?
Kalau ketemu, ya baik-baik saja.
Apa sering kontak-kontakan dengan Anda?
O, nggaklah. Kalau ketemu saja, ya ngobrol. Gitu saja. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.