“Sebagai pengayom masyaÂraÂkat, segala kritik itu dihadapi dengan lapang dada. Biar kita diÂhujat, kita harus senyum saja,†kata Sutarman saat mengunjungi Redaksi
Rakyat Merdeka, GeÂdung Graha Pena, Jakarta, kemarin.
Dikatakan, untuk atasi seluruh masalah pelik yang dihadapi Jakarta, polisi akan mengerahkan seluruh daya dan usahanya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
“Memang belum sempurna, tapi saya tetap berusaha memÂberikan pelayanan yang terbaik,†tegasnya.
Berikut kutipan selengkapnya:Problem besar Jakarta adaÂlah kemacetan, menurut Anda bagaimana model pengelolaan lalu lintas? Satu gagasan yang dibentuk pemerintah daerah sekarang adaÂlah memaksa masyarakat untuk gunakan angkutan massal seperti busway. Tapi kenyataanÂnya, kita tidak bisa memaksa masyarakat agar beralih ke busway. Sebab, seluruh koridor ini belum meÂnyentuh seluruh lingkungan. Makanya saya sudah sampaikan ke Gubernur perlu langÂkah straÂtegis jangÂka panjang.
Seringkali macet itu gara-gara ngetemnya angkutan umum?Kita pelan-pelan laÂkukan peÂnertiban agar tidak ada angkutan yang ngetem.
Kita akan tetap maksimal atasi kemacetan. Kalau macet, sabar. Tapi sekarang jika macet, mau cepat semua. Begitu juga jadi keÂpala daerah, jadi Presiden, seÂmuaÂÂnya mau cepat-cepatan. Saya pernah ikut dengan Presiden, dia bilang, memang apa enaknya jadi Presiden, dihujat terus. Makanya paling enak jadi Kapolres, keÂmana-mana mudah, ha-ha...
Bagaimana kalau ada aparat Anda yang melakukan pelanggaÂran?Memang ada anggota kita yang menyelam sambil kencing, ha-ha-ha...
Kita akui ada, tapi pasti akan kita tertibkan. Itu yang bisa kita lakukan.
Langkah apa yang Anda laÂkukan untuk meningkatkan keÂnyamanan masyarakat?Sebagai Kapolda, sudah menÂjadi tugas saya untuk menciptaÂkan rasa keamanan, ketertiban, melindungi, dan mengayomi maÂsyarakat demi terlindunginya hak asasi manusia (HAM). Ini juga menjadi visi Polri. Jadi, masyaÂrakat keluar rumah tak ada lagi rasa waswas.
Tapi untuk menciptakan rasa aman itu, perlu diciptakan laÂpaÂngan pekerjaan demi peningÂkatan kesehjahteraan. Artinya peÂngangÂguÂran berkurang, seÂhingga berkurang juga aksi kejaÂhatan. Ini bukan jadi tugas polri semata tapi menjadi visi seluruh stakeholders yang juga tertuang dalam UnÂdang-Undang Dasar 1945.
Bagaimana mengerahkan sumÂber daya di kepolisian?Menyangkut masalah kejiwaan seseorang setiap saat bisa beruÂbah. Makanya sebagai motivator dalam rangka perubahan, kita akan beraÂlih ke fungsi pelayanan masyaÂraÂkat dan itu pasti menguÂbah
culture dan
mindsheet, jadi perlu juga dukungan teman-teÂman media. Prinsip saya itu, meski belum sempurna, saya tetap berusaha.
Bagaimana dengan konflik antar-kelompok?Konflik antar-kelompok meÂmang kita melihat dari sisi keaÂmanan. Saya tidak bisa katakan antara aliran kepercayaan dan agama tertentu yang jadi fokus kita karena kita hanya mencegah dampaknya, seperti pembakaran rumah ibadah harus dicegah.
Kita hendaki aturan itu yang mengatur lebih tegas, kalau diÂlarang, kita yang menutup. Tapi karena tidak ada, sudah berantem dulu, terbakar habis. Untuk itu, kita sudah tempatkan intel kita supaya tidak terlambat cegah konÂflik seperti pembakaran ruÂmah ibadah.
Untuk selesaikan masalah preÂmanisme, strategi apa yang Anda lakukan?Saya menganggap media itu memilik peran yang sangat strategis.
Makanya saya senang, biar kita dihujat-hujat kita senyum saja. Makanya saya datangi pelan-pelan, tapi bukan hanya media, tapi juga komunitas kemasyaraÂkatan. Dengan mendatangi itu kan kita bisa tahu siapa yang bisa sebabkan masalah atau komuÂnitas mana yang sumbat komuÂnitas lain.
Anda pernah menjadi pengaÂwal Presiden di era Gus Dur, apa saja suka dukanya?Saya suka semua. Setiap tugas yang diberikan kalau dikerjakan secara ikhlas, dari hati yang jujur, bersih, dan dibarengi kemamÂpuan teknis, profesional dengan penguasaan ilmu yang baru, saya kira akan berjalan dengan baik. Tapi jangan kemampuan kita diÂsalahgunakan.
[RM]
BERITA TERKAIT: