“Masih banyak potensi prajurit yang belum termanfaatkan. Ini tentu sangat disayangkan,’’ ujarÂnya saat menyambangi redaksi
Rakyat Merdeka, Jakarta, Senin (15/11).
Berikut kutipan selengkapnya:
Apa yang Anda lakukan?Saya mendatangi Pemda, DPRD, Pemda, Polda, intinya jaÂngan dibiarkan prajurit mengangÂgur. Potensi Kodam Jaya ini begitu besar, tapi dibiarkan begitu saja.
Saya harapkan Gubernur untuk libatkan prajurit-prajurit dalam pembangunan-pembangunan itu. Ini kesempatan TNI untuk dekatÂkan prajurit ke masyarakat, suÂpaya lebih menyatu.
Kalau ada sinergi, tentu ada manfaatkan bagi Jakarta. Dengan demikian Jakarta bisa jadi contoh bagi daerah lainnya.
Sejauh ini bagaimana keterÂliÂÂbatan TNI dalam pengamaÂnan ibukota?Saya pernah tawarkan pada Kapolda untuk mengoptimalkan prajurit TNI yang tersebar di ibuÂkota. Dengan potensi besar yang dimiliki TNI, baik darat, laut dan udara, tentu bisa dimakÂsiÂmalÂkan.
Termasuk menangani macet?Ya, minimal pada jam-jam raÂwan kemacetan, prajurit keluar dari pengkalannya untuk mengaÂtur lalu lintas pada radius tertentu di sekitar pangkalan. Mengapa dibatasi karena kalau dilepas efeknya bisa tidak baik, polisi jadi terÂgangÂgu, atau semaÂcamÂnya padaÂhal kita ingin memÂbantu kepolisian dan DLLAJ (Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan).
Itu belum optimal tapi saya akan optimalkan peran TNI untuk atasi kemacetan.
Bagaimana dengan banjir atau bencana?Peran TNI atasi bencana di ibukota, terutama banÂjir, kita suÂdah terbagi menjadi satuan yang lebih lengkap yang setiap saat bisa kita turunkan.
Bahkan kami sudah memikirÂkan, bagaimana menghadapi gempa. Makanya kita menata kemÂÂbali kekuatan, minimal memÂberi pertolongan bila terjadi gemÂpa.
Dalam penanggulangan benÂcana itu, setiap saat kita berkoorÂdinasi dengan Pemda, maupun dengan relawan-relawan lain yang memang sudah terbiasa haÂdapi bencana. Kita juga punya hubungan baik dengan teman-teman yang sering adakan bakÂsos, aksi kesehatan, dan pasti kita akan bersinergi dan turun ke wilayah yang membutukan banÂtuan kesehatan.
Bagaimana soal aksi terorisÂme?Aksi terorisme itu tak pernah surut walau kelihatannya tidak ada, atau sedang turun. Pada saat turun itu, biasanya mereka meÂnyuÂsun rencana besar. Jadi ketika mereka
cooling down, kita siapÂkan aparat untuk hadapi aksi terorisme.
Mudah-mudahan kekhawaÂtiran kawan-kawan kita dari Amerika Serikat, Australia, dan negara lainnya terhadap terorisÂme, tidak menjadi kenyataan, mereka makin nyaman. Ini terÂjaÂwab dengan kedatangan PreÂsiden AS Barack Obama, Perdana MenÂteri Australia... di Jakarta. Dengan itu, kita beri sinyal positif pada AS dan Australia bahwa pemerintah RI berusaha keras hadapi ancaman terorisme dengÂan sebaiknya.
Apakah perlu format baru agar TNI lebih berperan dalam meÂÂnangani terorisme?Kita punya komunitas intelijen di daerah dan ketuanya itu adalah Wakil Gubernur (Wagub) PriÂjanto yang mengetuai seluruh koÂmunitas intelijen, baik TNI, Polda, Kejaksaan. Jadi unsur intel itu berada di bawah wagub.
Di situ mereka selalu membagi informasi, memprediksi ancaÂman-ancanam yang mungkin timbul di masa-masa mendatang. Tapi perlu kita pahami bahwa dalam aturan yang ada mengaÂtakan pelibatan itu dimungkinkan jika ada permintaan. Kita tak boÂleh mengambil inisiatif yang terÂlalu berlebihan, sehingga seolah-olah kita yang lebih bergairah dari mereka. Tapi untuk mensiaÂsati itu, sekarang kita ambil langkah.
Langkah-langkah seperti apa yang telah dilakukan TNI untuk menghadapi demo yang bisa menÂjurus anarkis?Dalam unjuk rasa besar yang berpotensi kerusuhan, Kodam mengambil inisitif untuk turun, tapi bukan untuk berhadapan dengan pengunjuk rasa, melainÂkan mengamankan obyek-obyek vital yang ada, misalnya pertoÂkoan.
Saat terjadi demo, kita tampil ke depan meminta pengunjuk agar jangan merusak. Kita meÂngingatkan saja, tidak berhadaÂpan dengan pengunjuk rasa seperti tahun 1997-1998.
O ya, bagaimana sikap TNI terhadap ormas?Kodam Jaya tidak dalam posisi mem-backing ormas-ormas yang keras. Tapi Kodam selalu mengÂhimbau untuk mengajak agar keberadaan mereka itu menjadi bermanfaat. Kehadiran ormas itu bukan membuat masyarakat resah. Ke depan mereka bisa berÂbuat positif. Tegasnya, kita tak memberikan dukungan pada kegiatan yang bisa menjurus anarÂkis, meresahkan masyarakat, kita tidak pernah mendukung itu.
Bagaimana soal kemaÂnungÂgaÂlan TNI dengan rakyat?Kita harapkan masyarakat tak memberikan resistensi pada TNI, begitu juga sebaliknya. Memang titik terendah itu ada pada tahun 1997-1998 di mana TNI memberi jarak dengan rakyatnya. Tetapi dalam 10 tahun ini sudah mulai mencair. Jadi untuk wujudkan kemanunggalan TNI dengan rakyat itu tentu harus kehendak kedua belah pihak. Bukan hanya dari TNI saja. Kami selalu beÂrupaya agar prajurit harus betul-betul berada di masyarakat kaÂrena masyarakat betul-betul membutuhkan mereka. Tapi kita juga harus kerja keras agar bisa diterima masyarakat.
Tadi Anda bilang dengan keÂmanunggulan TNI dengan rakÂyat, negara tetangga menjadi berÂpikir meski alutsista keÂtinggaÂÂlan, sejauhmana keterÂtinggaÂlan itu? Dari segi alutsista, presiden sudah menegaskan agar alutsista perlu mendapat perhatian lebih lagi. Kita harapkan pemerintah bisa memperhatikan ini, sehingga alutsista yang kita miliki tidak terlalu tertinggal dari negara teÂtangga. Minimal punya yang sama dengan negara tetangga itu.
Kita pahami industri pertahaÂnan dalam negeri kita kualitasnya cukup baik, utamanya TNI AD, industri alutsista cukup memÂbangÂgakan. Cuma kita berharap peÂsawat dan lainnya buat TNI UdaÂra dan Laut bisa dapatkan yang terbaik.
[RM]
BERITA TERKAIT: