“Kami kehilangan dan bersedih, itu sudah pasti. Tapi kami juga merasa bersedih kalau hanya berÂpangku tangan di saat ada sauÂdara-saudara kita yang memÂbutuhkan bantuan,†ujar KomanÂdan Tagana, Teguh Raharjo keÂpada
Rakyat Merdeka, melalui via telepon, dari Yogyakarta, kemarin.
Menurut ayah 3 anak ini, lima anggotanya itu telah memberikan yang terbaik, ini tentunya memÂberi semangat agar terus memÂbantu para korban Merapi.
“Untuk menjadi relawan harus berangkat dari hati. Ini namanya relawan sejati yang selalu siap membantu sesama meski nyawa taruhannya,â€
ujarnya.
Berikut kutipan selengkapnya: Kenapa sampai rela berkorÂban seperti itu?Buat kami itu adalah panggilan hati agar bisa membantu saudara-saudara kita yang terkena benÂcana, tentunya siap juga degan risikonya. Inilah relawan yang tulus dan ikhlas.
Berapa anggotanya?Di Yogya ada 1.200-an orang. Yang aktif dalam membantu korÂban meletusnya Gunung Merapi sebanyak 850 orang. Sekarang ini dikurangi 5 teman kami yang meninggal. Jadi, jumlahnya 845 orang.
Apa saja bantuan pemerinÂtah terhadap anggota Tagana yang meninggal itu?Ada semacam tali kasih yang diberikan Kemensos sebesar Rp 5 juta per orang.
Itu saja?Bagi relawan yang punya anak, kami juga menghimpun dana dari lembaga-lembaga yang kita kenal sudah ikut membantu kami.
Apa saja yang sudah dilakuÂkan untuk korban meletusnya GuÂnung Merapi?Tagana lebih memperhatikan bantuan-bantuan logistik untuk saudara-saudara kita yang ada di barak-barak dan pengungÂsian. Kami buka dapur umum, kami juga sedikit membantu yang trauma, dan distribusi banÂtuan yang saat ini sedang memÂbuÂtuhÂkan. Karena ini sudah terÂstruktur dengan baik di level tingkatan. Kami juga dibantu oleh teman-teman dari Tagana yang lain.
Dari mana saja?Dari teman-teman di Jawa TiÂmur (Malang), Sulawesi Selatan (Gorontalo), NTB, DKI, Jawa Barat, Sumatera Selatan. Itu seÂmua yang sudah datang ke Yogya untuk membantu kami.
Adakah bantuan dari pemeÂrinÂtah untuk para relawan?Ada, sebab kami itu bergabung di dalam Kementerian Sosial (Kemensos). Tapi mereka hanya diberi bantuan operasional seÂlama di lapangan.
Berapa anggaran untuk opeÂraÂsional?Nggak, etis lah. Yang jelas, hanya sekadar tali asih dari KeÂmensos untuk operasional saja.
O ya, sejak kapan jadi relaÂwan?Sejak 1991. Kemudian tahun 2004 dibentuk Tagana.
Sudah kemana saja jadi reÂlawan?Sudah banyaklah. Bencana di Sumatera dan di Jawa. Pokoknya sudah banyak.
Waktu menjadi relawan, apaÂkah ada tantangan dari keÂluarga?Nggak, sebab sebelum saya berkeluarga sudah bergabung deÂngan relawan. Yakni aktif di Palang Merah Indonesia (PMI).
[RM]
BERITA TERKAIT: