WAWANCARA

Lukman Hakim Saifuddin, Tingkatkan Kerja Sama Dengan Australia Untuk Menghadapi Ancaman Terorisme

Minggu, 07 November 2010, 05:30 WIB
Lukman Hakim Saifuddin, Tingkatkan Kerja Sama Dengan Australia Untuk Menghadapi Ancaman Terorisme
RMOL. Australia di bawah kepe­mim­pinan Julia Gillard akan meningkatkan kerja sama dengan Indonesia dalam memberantas teroris.

“Saya percaya hubungan kita dengan Australia bakal lebih baik setelah dipimpin Julia Gillard,’’ ujar Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saifuddin, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta.

Dikatakan, Australia berjanji akan menginvestasikan sekitar 500 juta dolar Australia di bidang ekonomi kemitraan dan di bidang pendidikan.

“Banyak kerja sama yang akan dilakukan untuk meningkatkan hubungan kedua negara,’’ ujar­nya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Bagaimana Anda melihat hu­bungan Indonesia dengan Aus­tra­lia sekarang ini?
Memang ada dinamika hu­bu­ngan kita dengan Australia. Sebab, bagaimanapun pemerin­tah Aus­tra­lia itu cukup dinamis. Tergan­tung  kondisi parlemennya di sana.

Sama seperti di Indonesia. Di sini juga begitu. Makanya, Julia Gillard mengakui bahwa parle­men Indonesia juga dinilai sangat dinamis.

Apa program kerja sama de­ng­an Australia?
Di bidang pendidikan. PM Aus­tralia yang baru, Julia Gillard, berjanji akan mengin­vestasikan sekitar 500 juta dolar Australia. Dia ingin membangun sejumlah sekolah-sekolah agama di Indo­nesia.

Kemudian berinvestasi di bi­dang ekonomi kemitraan, banyak hal yang akan dikembangkan. Misalnya, kerja sama di bidang keamanan, yakni bagaimana menghadapi terorisme bersama kepolisian Indonesia dan Austra­lia untuk lebih mening­katkan ke­mampuannya menghadapi anca­man teroris.

Menurut saya banyak hal yang akan dikerjakan ke depan untuk tetap menjaga dan memelihara hubungan baik kedua negara.

Anda yakin seperti itu, bu­kan­­nya sama seperti lalu-lalu yang cenderung hubungannya panas dingin?
Saya yakin semakin baik ke depan. Australia cukup realistis  melihat negara Indonesia dengan umat Islam terbesar di dunia. Namun Indonesia juga memiliki karakteristiknya tersendiri. Ka­rena Islam di Indonesia adalah Islam yang moderat, Islam yang toleran, dan Islam yang tetap mengajurkan kedamaian. Walau­pun di sana-sini tidak demikian, tapi itu kan sifatnya kasustik.

Secara keseluruhan, Islam di Indonesia itu bisa menerima, bah­kan tidak hanya sekadar mene­rima, tapi menjadi soko guru (tulang punggung) bagai­mana kita menjaga pluralitas kita, dan kebhinekaan kita.

Karena bagaimanapun juga Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Makanya sem­bo­­yannya adalah Bhineka Tunggal Ika. Jadi, keberagaman itu jangan lalu kemudian dilihat dari sisi yang negatif yang bisa memisahkan di antara kita. Tapi sebaliknya, bahwa kebera­gaman dan kebhinekaan harus di­maknai dengan cara positif. Yaitu kebe­ragaman justru yang me­rang­kai kita semua menjadi satu.

Apakah PM Australia yang baru itu memahami hal itu?
Tentu, saya yakin dia sangat memahami itu. Makanya, saya yakin ke depan hubungan kita dengan Australia semakin baik.

Harapan Anda kepada Julia Gillard?
Kita berharap kepada PM Australia yang baru agar mem­perhatikan kerja sama di bidang pendidikan, karena banyak se­kali pelajar kita, terutama yang be­­­ra­gama Islam me­nge­nyam pendi­dikan di Australia. Hen­dak­nya peme­rin­tah Aus­tralia tetap mem­beri du­kung­an dan bisa mem­beri­kan ke­mu­da­han-ke­mu­da­han bagi me­reka.

Kesan Anda dengan Julia Gillard?
Biasa-biasa saja ya. Kan belum mengenal lama, cuma di sini se­bentar saja. Sebab, harus pulang ke Australia karena dia baru ter­pilih, tentunya banyak PR (Peker­jaan Rumah) yang harus dikerja­kannya.

Jadi, intinya saat kedatangan  Julia Gillard ke DPR,  Selasa (2/11) lalu bertujuan untuk berke­nalan dengan parlemen Indone­sia. Ini kan kunjungan kehorma­tan karena baru terpilih menjadi Perdana Menteri Australia.

Saat itu, kami mengucapkan selamat kepadanya yang terpilih menjadi Perdana Menteri. Kita tentu mendukung dan ikut men­doa­kan mudah-mudahan dia bisa menjalankan amanah itu dengan baik.

Kapan Julia Gillard datang lagi ke Indonesia?
Secara implisit dia tidak nya­ta­kan, tapi saya kira sebagai ne­gara tetangga, tentu wajar bila saling mengunjungi. Jadi, ya kita tunggu saja.

O ya kenapa Gillard harus ke Indonesia terlebih dahulu?
Karena dia merasa Indonesia tetangga terdekat yang cukup strategis. Jadi, sebagai bentuk ke­hormatan, dia memprioritas­kan Indonesia sebagai negara yang pertama kali dikunjungi.

Kunjungannya hanya seka­dar kenalan begitu?
Biasalah, dalam rangka lebih memperkuat hubungan kemitraan antara kedua negara. Baik kemi­traan di bidang ekonomi, pendi­dikan, dan keamanan. Ya, saling mendukunglah di forum-forum regional atau di forum-forum global.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA