“Ke depan, Kostrad tentu akan lebih baik,†kata Burhanudin yang akan segera memasuki masa pensiun di usia 58.
Selama menjadi tentara dan seÂpuluh bulan menjabat PangÂkosÂtrad, Burhanudin mengaku baÂnyak mengalami suka duka. “SeÂlama itu terasa betul-betul saya menjadi tentara. Saya puas. Saya mendapat kehormatan yang luar biasa di Kostrad ini,†tuÂturnya.
Burhanuddin diangkat sebagai Pangkostrad pada Januari 2010 menggantikan George Toisutta yang dipromosikan menjadi KeÂpala Staf TNI AD (KASAD). SeÂtelah pensiun, dia mengaku tidak akan terjun ke dunia politik.
Setelah pensiun, Anda memÂperÂtimbangkan menjadi peÂtani. Kenapa tidak terjun ke duÂnia politik?Saya tidak berminat. Kalau saya diajak berpolitik, terutama di partai, mungkin saya tidak berÂbakat. Berpolitik itu perlu baÂkat. Kalau saya diajak berbisnis, itu juga belum tentu ada bakat. Jadi untuk sementara saya konÂsolidasi dulu.
Suka duka menjabat PangÂkosÂtrad?Dukanya hampir tidak terlalu banyak. Misalnya, karena baÂnyak latihan, sering meninggalÂkan anak istri. Sering pindah-pindah. Sehingga, anak saya yang sekoÂlah tidak bisa mapan betul karena sering pindah-pinÂdah. Sukanya, saya senang betul merasakan jadi tentara sampai Pangkostrad ini. Dulu dinas pertama saya di SulaÂwesi selama 10 tahun. Di Kodam. Tapi seÂlama itu terasa betul-betul saya menjadi tentara dan saya puas. Saya mendapat kehormatan yang luar biasa di Kostrad ini.
Kenapa Anda bisa sampai ke Kostrad...Saya di Kostrad mulai menÂjabat Komandan Batalyon tahun 1993-1995, kemudian 1995-1996 sempat menjadi Kepala Staf Brigade 6 Kostrad Solo. 1996 saya pindah ke Jakarta menjabat Wasintel Kostrad, lalu 1997-1998 saya diberi kesemÂpatan menjadi Komandan BriÂgade 6 Kostrad Solo. Lalu sekoÂlah Seskuabri, setelah itu kemÂbali ke Makostrad menjadi AsinÂtel Pangkostrad. Saya ditugaskan di luar Kostrad dan baru kembali lagi ke Kostrad pada 2003 sebagai Kepala Staf Divisi I Kostrad. Lalu keluar lagi jadi Kasdam, jadi Pangdam Bukit Barisan dan kembali lagi ke Kostrad Januari 2010 hingga pensiun.
Dari seluruh kehidupan tenÂtara yang Anda alami, mana yang paling sulit?Yang paling sulit biasanya pada tahap-tahap awal. Saat pertama kali jadi tentara, banyak keterÂbatasan.
Saya sempat kontrak rumah, rumah dinas tidak ada, bahkan sampai posisi kapten. Itu saja masa-masa sulit saya.
Bagaimana Anda di KosÂtrad?Saya melanjutkan tugas PangÂkostrad terdahulu, dari George Toisutta kan ada program-proÂgram beliau yang belum selesai, ya saya lanjutkan, lalu saya tamÂbah dan benahi. Hanya saja, November 2010 ini, ada latihan-latihan yang sangat penting tapi tidak bisa saya ikuti. Yang perÂtama, latihan Batalyon Tim PerÂtempuran yang dilakukan di Sangga Buana, kedua, nanti ada juga latihan militer dengan SingaÂÂpura. Kemudian, ada latiÂhan paÂsukan reaksi cepat di Kalimantan Timur oleh Divisi II di Malang, itu sayang sekali tidak bisa saya ikuti padahal saya sangat senang mengikuti latihan-latihan terÂsebut.
Selain bertani, apa yang akan dilakukan seÂtelah penÂsiun? Pertama, saya menyadari keÂterÂbatasan saya. Basic saya, awal saya, keluarga saya dari petani. Jadi tidak tertutup kemungkinan kembali jadi petani seperti orang tua saya di Sumatera Selatan. Kebetulan orang tua saya , merÂtua saya punya ladang. Paling-paling mulai dari situ.
Jadi benar-benar fokus ke pertanian nih?Kalau dibilang fokus menjadi petani sih tidak. Saya masih konÂsultasi dulu, baru kita lihat peÂluang mana yang cocok.
Ada saran kepada pengganti Anda?Saya kira tidak ada saran. Karena beliau sudah sangat proÂfesional karena background beÂliau kan di Kopassus, punya pengalaman latihan dan telah banyak menghadapi situasi dan kondisi. Saya yakin beliau (PraÂmono Edhie Wibowo) lebih baik dari saya, sehingga Kostrad bisa lebih bagus lagi.
Saat ini banyak perwira-perÂwira muda yang mumpuni. Untuk bisa menduduki jabatan prestisius seperti Pangkostrad misalnya, apa yang mereka haÂrus kemÂbangkan?Persyaratannya, pertama, keÂmampuan atau kapabilitas. KeÂdua, acceptabilitas, diterima lingÂkungan. Dan ketiga, loyaÂlitas. Tiga itu harus terpenuhi. Tapi tidak menjamin, karena faktor nasib juga ada berÂpengaÂruh. Banyak yang pintar tapi tidak loyal, tidak bisa juga. Dia loyal sekali tapi tidak ada pengalaman operasi dan latihan, tidak bisa juga, dan sebagainya.
Apa yang Anda bayangkan dan harapkan dari waÂjah TNI ke deÂpan?Saya berharap, ke depan, TNI maÂÂkin kuat dan besar. Bukan kecil efektif, tapi besar efektif, itu yang benar. Perlu diÂingat, tidak ada neÂgara besar di dunia yang tidak didukung oleh AngÂkatan BerÂsenjata yang kuat, berarti negara kita harus kuat perÂsenÂjataannya. Negara kita ini dari segi penÂduduk saja nomor empat setelah China, India dan Amerika Serikat. Dari segi garis wilayah, kita sama dengan Eropa Barat, Eropa Timur, itu berapa puluh negara, sementara kita satu neÂgara. Ditambah potensi sumÂberÂdaya alam yang luar biasa, berÂlimpah-limpah. Jadi, kita haÂrus meÂmiliki angkaÂtan perÂsenÂjataan yang kuat.
Dengan kondisi ini, bagaiÂmana Anda melihat kesiapan tenÂtara kita di wilayah perÂbaÂtasan?Sebenarnya kita tidak kalah kuatnya dengan negara-negara sahabat kita, Singapura maupun Malaysia. Di ASEAN kita negara paling besar.
Apakah dari segi militer, kita juga yang terbesar?Ya. Militer kita juga besar. Ke depan, kita berharap bisa menjadi yang terÂbeÂsar dan terÂkuat.
[RM]
BERITA TERKAIT: