WAWANCARA

Syamsul Maarif, Helikopter & Peralatan Canggih Perlu Direalisasikan Secepatnya

Kamis, 04 November 2010, 07:32 WIB
Syamsul Maarif, Helikopter & Peralatan Canggih Perlu Direalisasikan Secepatnya
RMOL. Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif mengatakan, pihaknya bekerja cepat dalam menangani setiap bencana di negeri ini.

“Buktinya, pengungsi men­da­patkan pelayanan yang lebih ba­gus,” ujarnya kepada Rakyat Mer­deka, melalui via telepon dari Ma­gelang, Jawa Tengah, Selasa (2/11).

Menurutnya, pemerintah sudah cukup sigap dalam menangani bencana banjir Wasior-Papua Ba­rat, meletusnya Gunung Merapi di Sleman-Yogyakarta, dan tsu­nami Mentawai-Sumatera Barat.

 â€œSeringkali itu hanya pikiran orang saja  bahwa kami tidak be­kerja. Padahal kami bekerja de­ngan cepat kok,” ucapnya.

Berikut kutipan lengkapnya:

Kalau bekerja dengan cepat, kenapa banyak orang yang tidak puas dengan kinerja BNPB?
Saya kira itu hanya anggapan saja. Tapi buktinya kami bekerja dengan secara cepat. Tapi tetap sa­ja dikritik, itu saja kan. Yang pen­ting bagi kami tetap bekerja.

Bukankah kritikan itu hen­dak­nya dijadikan koreksi dan pemicu untuk bekerja lebih gesit lagi?   
Kami terima setiap masukan. Tapi janganlah bangsa kita ini sa­ling menjelek-jelekan. Bisa jadi, ada sedikit  kekurangan, lalu di­besar-besarkan, bahkan seolah-olah negara tidak mempunyai ke­mam­puan. Itu tidak mungkin, se­bab pasti kami akan mem­be­ri­kan yang terbaik.

Seharusnya semua komponen ma­syarakat bahu-membahu un­tuk membantu korban setiap ben­cana, bukannya saling menjelek-jelekkan.

 Apa saja sih yang sudah dila­kukan BNPB?
Untuk banjir Wasior, kami telah membangun hunian semen­tara untuk 1.200 KK yang dila­ku­kan bersama TNI. Dan Bapak Presiden  waktu itu mengatakan, supaya mengerahkan Yonzipur baik dari Marinir, maupun Ang­katan Darat. Saat ini mereka su­dah bekerja di sana.

Dengan dibantu Yonzipur dari Cen­drawasih, diharapkan se­ban­yak 100 barak sudah selesai pada ak­hir tanggap darurat 15 No­vember ini.

Untuk korban meletusnya Gu­nung Merapi?
Kami telah bekerja sama de­ngan Pemda setempat untuk me­la­kukan pelayanan memenuhi ke­bu­tuhan dasar bagi para pe­ngungsi.

Bebagai elemen sudah  me­nyam­paikan hasil pengecekan bah­wa pengungsi mendapatkan pe­la­yanan yang sangat bagus dan tidak ada masalah. Tapi karena ada­nya perpindahan beberapa pe­ngungsi, berarti  kita harus mem­bangun kembali tempat pengung­sian. Pokoknya, semua meme­nuhi kebutuhan dasar. Jadi, tidak ada masalah soal penyaluran ban­tuan.

Tampaknya kurang koordinasi antara BNPB dengan Pemda soal penyaluran bantuan?
Ah, nggak juga. Ada koor­di­nasi kok. BNPB membantu Pem­da saat kita lihat di mana keku­rang­annya. Pokoknya, bantuan da­ri pemerintah pusat, dari swas­ta, dari Pemda  disatupadukan untuk disalurkan ke pengungsi.

Walau semua kekuatan disatu­padukan, tetap saja ada ken­da­lanya kan?
Ya, tentu. Saya kira kendala itu pasti ada. Tapi kendala itu bisa diatasi kok.

Kalau bantuan untuk korban tsunami Mentawai, bagaimana?
Untuk Mentawai memang yang paling krusial. Terutama me­nyangkut ketergantungan kita ter­hadap cuaca. Tetapi tadi pagi (2/11) saya sudah bicara dengan Panglima TNI agar  disiapkan Pesawat Cassa, 5 KRI yang ada di Sikakap, dan 2 helikopter.

Nah, itu sedang digerakkan. Saya mendapat laporan bahwa se­mua tempat-tempat yang ter­landa tsunami itu bisa terjangkau.

Tapi kan suka terhambat ka­rena cuaca kurang bersahabat?
 Begitu cuaca baik, langsung disalurkan bantuan ke sana. Tapi ka­lau cuacanya kurang baik, ten­tu bantuan ditunda.

Untuk ketersediaan pangan, bagaimana?
Ketersediaan pangan, dan obat-obatan di Sikakap menurut laporan dari pejabat Pemda cukup untuk 1 bulan. Bahkan bisa di­per­panjang sampai 3 bulan.

Kapan bangun hunian semen­tara?
Kami beserta Pemda me­ren­canakan untuk segera membuat hunian sementara bagi pengungsi yang rumahnya hancur, jum­lah­nya sekitar 500 rumah. Sebab, yang lain bisa terserap ke sau­da­ra-saudara maupun rumah me­reka yang tidak hancur.

Tapi karena pembuatannya belum terlaksana, maka sekarang kita konsentrasi untuk tanggap da­rurat dulu. Itu permintaan Ba­pak Presiden agar disukseskan.

Kebutuhan lainnya?
Itu juga. Setelah ketersediaan hunian untuk masyarakat, keter­se­diaan makanan, pakaian, obat-obatan, air bersih, dan juga untuk pendidikan (sekolah sementara). Nah, itulah yang sedang diren­ca­nakan untuk pengiriman bahan-ba­han bangunan yang akan se­gera kita drop ke wiayah-wilayah itu.

Sekali lagi itu memang sedang diupayakan. Tidak hanya untuk Si­kakap tapi untuk daerah yang lain.

 Bagaimana dengan kendala  anggaran yang minim?
Sementara ini memang kami bergantung kepada cadangan-ca­dangan. Tapi memang dari be­be­rapa bantuan masyarakat, kami ju­ga perlu mempersiapkan be­berapa tin­dakan-tindakan siap siaga. Mung­kin kami perlu mem­buat pa­tok-patok permanen untuk meng­hadapi tsu­nami dan Gunung Merapi.

Patok-patok penyelamatan ini berarti harus ditambah anggaran juga. Bahkan Bapak Presiden memerintahkan untuk dikaji. Ke­mung­kinan BNPB mem­punyai he­likopter dari PT DI, dan per­alatan canggih lain yang mungkin bisa diproduksi oleh bangsa kita sendiri. Itulah yang mungkin menjadi catatan.

Kami memang berharap perlu direalisasikan secepatnya. Tetapi itu harus berdasarkan keter­se­diaan anggaran yang ada, dan se­suai dengan kemampuan peme­rin­tah.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA