Yang terbaru, disuarakan oleh Ketua Dewan Pembina Golkar, Akbar Tandjung di UniverÂsitas Pancasila Rabu (27/10).
Akbar mengaku, pernah mengÂingatkan Ical-sapaan akrab Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, bahwa Golkar akan rugi jika gaÂbung dalam setgab. Sebab, kata Akbar, kebebasan gerak partai menjadi terhambat.
Kenapa suara-suara seperti ini muncul?
Rakyat Merdeka mewaÂwancarai sesepuh Golkar, GinanÂdjar Kartasasmita, yang mengeÂtahui tentang sejaÂrah kenapa Golkar berada di setgab.
Keberadaan Golkar di setgab mulai diprotes kader beringin, bagaimana Anda melihat hal ini?Sebetulnya, dukungan Golkar terhadap pemerintahan SBY adalah kehendak, atau sekurang-kurangnya suasana kebatinan yang berkembang luas, di Munas Golkar di Riau. Keberadaan Golkar dalam koalisi merupakan konsekuensi dari sikap. Bukan semata- mata permainan politik Aburizal Bakrie.
Konsekuensi sikap gimana?Kita masih ingat bahwa duÂkungan terhadap pemerintahan SBY merupakan platform politik calon Ketua Umum Golkar waktu itu (Munas Di Riau). Perdebatan politik di tubuh Golkar pada wakÂtu itu berkisar pada isu apakah Golkar mendukung dan masuk dalam koalisi pemerintah, atau berÂaÂda di luar dan menjadi “oposisiâ€. Kelompok pertama adalah kubu Ical, dan kelompok kedua kubu Surya Paloh. Munas Golkar itu berlangsung setelah SBY terpilih, tetapi sebelum pelantikannya sebagai Presiden, berarti sebelum Kabinet terbenÂtuk. Ternyata yang menang, dengan perbedaan suara yang cukup meyakinkan adalah kubu Ical. Berarti pandangan mayoritas dalam Golkar menghendaki Golkar berada dalam pemerinÂtahan, meskipun dalam Pilpres, Golkar mengajukan calon sendiri.
Lalu?Kemudian terjadi komunikasi politik antara Presiden terpilih dan Ketua Umum Golkar. Jadilah Kabinet Indonesia Bersatu 2 dimana ada Golkar di dalamnya. Dan dalam perkembangan selanÂjutÂnya, Ketua Umum Golkar diÂminta menjadi pimpinan harian Sekretariat Gabungan Koalisi pemerintah. Fakta politik itu tidak bisa dilupakan dan dikesamÂpingkan begitu saja. Masuknya Golkar dalam koalisi ada sejarahÂnya dan landasan “konstituÂsionalâ€nya.
Nah, setelah setahun berjalan sepertinya berkembang suasana kekecewaan di dalam Golkar terhadap koalisi, dan sebaliknya ada juga perasaan yang sama dari partai-partai dalam koalisi awal terhadap sikap Golkar dalam berbagai isu. Dan inilah yang belakangan menjadi isu yang merebak sedemikian rupa sampai Ical dalam Rapim Golkar yang lalu merasa perlu untuk mengÂklarifikasi dan menegaskan kemÂbali keberadaan Golkar dalam koalisi.
Kenapa saat ini keberadaan Golkar di setgab masih saja diÂpersoalkan?Sekarang dipersoalkan seakan-akan perbedaan antara Golkar dengan partai-partai lain dalam koalisi bersifat prinsip dan menÂdasar. Menururt saya bukan itu soalnya. Kalau soal falsafah poliÂtik, Demokrat seharusnya lebih dekat kepada Golkar dariÂpada dengan PKS atau PPP.
Biasa kok koalisi terdiri dari partai-partai yang berbeda falÂsafah politiknya. Untuk memeÂnuhi mayoÂritas suara di parleÂmen, koalisi macam itu acapkali terÂpaksa ditempuh. Seperti kawin paksa.
Kita ikut-ikutan sistim itu, padahal kita menganut sistim lain, yaitu presidensial. Jadi seÂjak awal kita sudah salah kaprah. Itu disebabÂkan sistim mulati partai, yang cocoknya untuk sistem parleÂmenter. Maka kalau kita ingin memperbaiki keadaan yang serba “bukan†ini, bukan presiÂdensial dan bukan parleÂmenter, kita harus meninjau kemÂbali sistim yang kita terapÂkan. MungÂkin harus dengan amandemen tambahan terhadap konstitusi.
Tapi, proses amandemen kan membutuhkan waktu yang lama?Selama belum ada amandeÂmen itu, jalan yang bisa dilakuÂkan adalah dengan mengurangi jumÂlah partai, bukan dengan cara fusi seperti di masa Orde Baru, tetapi melalui proses demokrasi, yaitu pemilihan umum. Atas dasar itu menerapkan
threshold yang lebih tinggi dari sekarang merupakan keniscayaan, kalau kita ingin membangun pemerinÂtahan yang stabil dan cepat tanggap terhadap perkembangan serta berbagai tantangan dan kepentingan maÂsyarakat.
Selain itu para anggota koalisi harus saling menghormati dan memahami bahwa sebagai partai politik tentu ada perbedaan satu sama lain, baik dasar pandangan dan cita-cita, maupun kepenÂtingan. Sebentar lagi satu sama lain akan saling bersaing, baik untuk memperoleh suara dalam pemilu ataupun untuk memeÂnangkan calon presidennya.
Ini akan memunculkan suaÂsana keÂretakan...Hal itu tidak boleh menjadi peÂnyebab keretakan atau lemahÂnya kehendak dan kepentingan bersama yang tulus untuk menÂjaga keharmonisan dan kesukseÂsan pemerintahan. Hal yang terakhir ini saya rasakan masih ada, sehingga timbul suara-suara, dari kalangan kedua pihak, bahwa Golkar seharusnya berada di luar koalisi. Kalau kita biarkan hal itu terjadi, pasti pemerintahan akan menjadi lebih tidak stabi, dan akhirnya masyaÂrakatlah yang jadi korban.
Anda punya analisis lain keÂnapa Ical yang jadi ketua harian terus diusik-usik?Soalnya, terasa ada yang tidak nyaman kalau hubungan SBY-ARB (Aburizal Bakrie) baik. Apalagi setelah fungsionaris Golkar ramai-ramai mendorong ARB jadi calon Presiden Golkar 2014. Bahkan agar koalisi seolah-olah tidak tergantung Golkar, ada upaya mengikut sertakan PDIP, yang meskipun mustahil, kalauÂpun terjadi koaÂlisi dengan PDIP mungkin akan lebih merepotkan SBY.
Dan mungkin lebih menyulitÂkan dalam proses pengambilan keputusan Yah, tapi itulah diÂnamika politik, tidak ada yang permanen, tidak pernah berpikir jangka panjang, karena kepenÂtingan politik selalu berjangka pendek. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah lebih banyak kaum politisi yang negaÂrawan, bukan yang melulu partiÂsan.
[RM]
BERITA TERKAIT: