“Demo itu bukan soal jumlahÂnya, tapi mutunya. Saya kira demo itu bermutu, karena pesan yang kami sampaikan sudah diterima rakyat. Kita targetkan 100 kota akan tetap melakukan demo sampai pemerintah ini berubah,’’ ujarnya kepada
Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:Kenapa Anda bilang berÂmutu?Soalnya sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita inginÂkan. Agar semuanya berjalan deÂngan damai. Kita optimistas seÂcara moral sudah berhasil.
Apanya berhasil?Dengan demo itu kita berhasil memberikan pesan bahwa pemeÂrintah ini perlu diperbaiki.
Tapi jumlah massa tidak baÂnyak tuh?Kami memang tidak menurunÂkan jumlah massa yang besar. Soalnya, ini hanya demonstrasi untuk menunjukkan sikap dan mencari perhatian. Dan misi itu sudah berhasil.
Selain itu, kita juga berhasil mencegah adanya provokasi. Teman-teman mahasiswa sudah berjalan dengan baik. Tetapi yang kita sesalkan ternyata yang terÂprovokasi sesungguhnya aparat.
Maksudnya?Saya menyaksikan dengan kepala saya sendiri, depan istana tiba-tiba aparat menembakan gas air mata dan water canon tanpa kejelasan urgensinya. Ini yang membuat massa menjadi marah. Kemudian menjadi agak sedikit bentrokan. Tapi yang memulai di situ adalah aparat tanpa kejelasan dan alasan menembakan water canon dan gas air mata dan meÂngeluarkan aparat bertameng anti huru-hara itu.
Kalau di tempat lain, bagaiÂmana?Sama saja. Aksi teman-teman UBK di LBH terkontrol dengan baik. Kalau polisi menjaga dari luar sekian meter saja, nggak akan ada masalah. Karena semua aksi pada pukul 17.00-18.00 WIB akan surut (bubar) dengan senÂdirinya.
Tapi kenapa riÂbut?Polisi meÂmaksa untuk memÂbubarkan sebelum waktuÂnya buÂbar. Ini menimÂbulÂkan perÂlawanan dari teman-teÂman UBK. Cara seperti ini kami sesalkan, apaÂlagi sampai ada korban, Farel, yang kena peluru tajam. Ini kan di luar prosedur resÂmi pengaÂmanan masyarakat deÂngan peluru taÂjam. Biasanya kan peluru karet.
Apa kesimpulan Anda?Jadi, memang sudah dipersiapÂkan untuk represi massa aksi. Dan ini terjadi hampir di seluruh kota yang melakukan aksi. Ada sekitar 24 kota yang menggelar aksi yang sama. Jadi secara kualitas kami sudah memenangi pertaÂrungan awal. Nah, kemudian yang kami pertanyakan kepada Kapolri adalah siapa yang berÂtanggung jawab kalau ternyata faktanya adalah aparat yang terÂprovokasi.
Namun demikian kita tetap dalam batas-batas kewajaran untuk melakukan aksi. Puncak demo akhir Desember 2010, target kita minimal di 100 kota.
Wow, di mana saja?Pokoknya kota-kota yang ada kampusnya.
Artinya demo akan berlanjut terus? Ya, sampai muncul lahirnya pemerintahan yang baik dan pro-rakyat. Ada dua kemungkinan.
Pertama, bahwa pemerintahan ini banting setir meninggalkan pihak-pihak asing yang mendikte selama ini.
Kedua, pemerintah banting setir ke pro-rakyat untuk lebih memperhatikan rakyat.
Tapi massa yang diturunkan nggak banyak kan?Kami merasa belum perlu menurunkan massa yang besar. Yang penting kita memeratakan situasi ini dan pandangan-panÂdangan ini ke seluruh Indonesia. Yaitu dengan melakukan aksi massa pada hari yang sama. Sampai muncul di 100 kota.
Apa betul aksi itu disusupi oleh beberapa kepentingan?Kita lihat track recordnya, maÂhasiswa bergerak moral dan cara berpikir mereka sangat inÂtelekÂtual. Bagi mahasiwa dan aktivis ini tidak penting, siapa yang menunggangi. Tapi yang penting tujuannya menciptakan pemerinÂtahan yang pro-rakyat.
Kira-kira berapa korban yang jatuh?Saya belum pantau. Tapi yang luka-luka sudah banyak.
[RM]
BERITA TERKAIT: