Ini berbeda dengan sembilan naÂma lain yang diusulkan maÂsyaÂrakat menjadi pahlawan nasional meÂlalui Kementerian Sosial (KeÂmensos) yang sepi kecaman.
Kesembilan nama itu adalah bekas Presiden Abdurrahman WaÂhid (Gus Dur), bekas Wakil PerÂdana Menteri Johannes LeiÂmena, bekas Gubernur DKI JaÂkarta Ali Sadikin, Sayid Al Jufrie (Sulawesi Tengah), Abraham DiÂmara (PaÂpua), Andi Makasau (SuÂlawesi SeÂlatan), Andi Depu (SuÂlawesi BaÂrat), Pakubuwono X (JaÂwa TeÂngah), dan Sanusi (Jawa Barat).
Walau begitu, bagi pengusul SoeÂharto mendapatkan gelar pahÂlawan nasional menganggap waÂjar-wajar saja penolakan tersebut.
“Dinamika di masyarakat seÂpaÂhit apa pun tetap dihargai. Kritik dan protes itu bagi kami wajar saÂja, tapi hindari sifat pendendam,†kaÂta Gunawan Sumodiningrat, angÂgota tim pengusul gelar pahÂlawan nasional untuk Soeharto, keÂpada
Rakyat Merdeka, di JaÂkarta, kemarin.
Berikut kutipan wawancara dengan Guru Besar Fakultas EkoÂÂnomi UGM itu:
Bagaimana Anda memandang kontroversi yang menentang SoeÂharto diberi gelar pahlawan naÂsional?Apa pun cerita masa lalu, SoeÂharto adalah bekas Presiden dan Bapak Bangsa. Kritik dan protes wajar saja, tapi janganlah kita jadi bangsa yang pemarah apalagi pendendam.
Tapi beberapa fakta sejarah tenÂtu tidak bisa diabaikan begitu saja kan?Sebagai manusia biasa, beliau punya kelemahan tapi sebagai peÂmimpin jasanya luar biasa besar. Kalaupun mau dibandingkan, Bung Karno dan Gus Dur juga ditumÂbangkan protes rakyat. SungÂguh suatu kebanggaan suatu bangÂsa apabila dapat memÂbeÂrikan gelar kepahlawanan kepada paÂra pemimpin yang berjuang seÂcara fisik maupun nonfisik seperti keberhasilan pembangunan menÂtal dan spritual bangsa.
Ini gelar pahlawan nasional yang tidak bisa dianggap main-main atau jadi hadiah begitu saja kan?Kita di sini tidak meÂmenÂtingÂkan gelar, status, apalagi anuÂgerah tapi melestarikan nilai keÂpahÂlawanan dari wujud prestasi haÂsil karya nyata Soeharto meÂningÂkÂatkan kesejahteraan rakyat. Utamanya nilai kepemimpinan para pemimpin yang memÂperÂhaÂtikan nasib rakyat. Bukan haÂnya berlomba jadi pemimpin yang memanfaatkan potensi rakyat tapi setelah jadi pemimpin lupa penÂderitaan rakyatnya.
Sebagai salah satu pengusul geÂlar pahlawan Soeharto, genÂtarÂkah Anda dengan barisan kelomÂpok penentang ?Jumlah suara dan dukungan yang pro terhadap Soeharto mÂasih cukup besar kok. Lagipula tidak baik juga kita ribut. Yang penting kita pikirkan bagaimana caranya mengangkat harkat marÂtabat bangsa.
Kita harus berjuang senÂdiri dan mencari keteladanan seÂseorang yang bisa membantu bangsa Indonesia keluar dari krisis keÂpemimpinan dan chaotic yang tidak berujung.
Memangnya berapa sih jumlah pendukung dan pengusul gelar pahlawan Soeharto?Banyak. Ada ratusan orang, mungkin lebih. Terdiri dari para pemuka masyarakat, akademisi, budayawan, sejarawan, pejuang, agamawan dan masyarakat umum. Untuk masalah gelar, kaÂmi tentu memiliki panitia. Secara rutin kami selalu menggelar disÂkusi, seminar dan acara lain untuk menampung masukan.
Apakah segala persyaratan sudah lengkap?Kalau Pak Dipo Alam (Seskab) sudah tahu berarti sudah meÂneÂrima usulan dari Kemensos. ArtiÂnya, usulan yang masuk dari keÂlomÂpok masyarakat sudah meÂmeÂnuhi persyaratan.
Persyaratannya apa saja sih?Berupa dokumen. Yakni, daftar uraian riwayat hidup dan perÂjuangÂan calon pahlawan (SoeÂharÂto) secara ilmiah, disusun sisteÂmaÂtis, berdasarkan data yang akuÂrat. Lalu, daftar dan bukti tanÂda kehormatan yang pernah diÂterima. Kemudian, catatan panÂdangan atau pendapat orang dan toÂkoh masyarakat tentang SoeÂharto. Juga foto-foto dan gambar doÂkuÂmentasi perjuangan Soeharto.
Sudah mendapat update pemÂbaÂhasan usul gelar itu dari IstaÂna?Belum tahu. Yang jelas, dari SetÂneg tentunya diserahkan ke Dewan Gelar untuk dinilai dan selanjutnya memberi masukan ke Presiden. Biasanya akhir bulan Oktober dibahas di Dewan Gelar yang diketuai Menko Polhukam.
Apa harapannya dari SBY seÂbagai pengambil keputusan?Kami berharap Presiden SBY mengabulkan anugerah pahlawan untuk Soeharto, Gus Dur maupun Pakubuwono X. Jika itu terjadi, maka SBY benar-benar bisa meÂmahami hakikat berbangsa dan bernegara dalam hal melestarikan nilai kepahlawanan para leluhur peÂmimpin yang mewujudkan cita-cita berbangsa dan bernegara.
Dari kacamata perspektif ideoÂlogis, apa perbedaan dari SoeÂharto dan Presiden SBY?Pak Harto melakukan peÂmanÂtapan Pancasila. Didirikanlah lemÂbaga pengawal Pancasila yaitu Badan Pedoman PengÂhaÂyatan dan Pengamalan Pancasila atau BP7. Ini mengingatkan maÂsyaÂrakat unÂtuk berperikehidupan bangsa yang benar dengan PeÂdoman PengÂÂhayatan dan PengaÂmaÂlan PanÂcaÂsila atau P4. SeÂbaÂlikÂnya, dari RenÂcana PemÂbaÂngunÂan JangÂka MeÂneÂngah NaÂsioÂnal (RPJMN) baik 2004-2009 mauÂpun 2010-2014, terlihat proÂgram SBY yang lebih impleÂmenÂtatif disesuaikan dengan perÂkemÂbangan zaman yang seÂmaÂkin global.
Kalau dari segi penangÂguÂlangan kemiskinan?Pak Harto sangat perhatian keÂpada pertanian dan perdesaan. Kalau Pak SBY berupaya meÂlanjutkan upaya penanggulangan keÂmiskinan dengan
triple track pro growth, pro poor, pro emÂployÂment ditambah
pro environment. [RM]
BERITA TERKAIT: