Sebab, patut diduga banyak piÂhak yang terkait dalam gratiÂfikasi tersebut. Sumber
Rakyat MerdeÂka di KPK menyebutkan, tim peÂnyidik diam-diam masih aktif teÂrus meÂngumÂpulÂkan data dan keÂterangan terkait peÂnerima graÂtiÂfiÂkasi lainnya, haÂnya saja sampai saat ini belum meÂneÂmuÂkan titik terang.
Kepala Hubungan Masyarakat KPK, Johan Budi Sapto Prabowo yang dikonfirmasi hal tersebut meÂÂngaku tidak mengetahui hal terÂsebut. Yang jelas lembaganya suÂÂdah memanggil 10 orang angÂgÂoÂta DPRD DKI Jakarta yang diÂduga menerima gratifikasi terÂseÂbut, dan semuanya menyatakan tiÂdak terÂlibat. “Namun, jawaban itu maÂsih akan kita telusuri lagi beÂnar dan tiÂdaknya,†katanya, kemarin.
Terkait banyaknya kritikan dari maÂsyarakat kepada KPK terkait peÂnuntasan kasus dugaan korupÂsi, Johan menegaskan, lemÂbaÂgaÂnya menerimanya sebagai bentuk cambuk evaluatif bagi peÂningÂkatÂan kinerja ke depan.
“Kritikan ini akan dijadikan baÂhan rujukan untuk memacu kinerja KPK agar lebih baik lagi ke depan nanti,†ujarnya.
Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Makam Mbah Priok, LuÂlung Lunggana membantah keÂras, kalau pihaknya telah meÂneÂrima graÂtifikasi Rp 10 juta. MeÂnuÂrutÂnya, pihaknya bekerja seÂsuÂai deÂngan prosedur yang berÂlaÂÂku dan tidak ada gratifikasi. “TiÂÂdak ada gratifikasi dan suap menyuap yaÂng saya terima dari manapun, kaÂmi sudah mengataÂkannya keÂpada KPK,†katanya.
Lulung mengaku tidak tahu-meÂnahu siapa saja yang meÂneÂrima surat klarifikasi dari KPK terkait persoalan tersebut. Dia sendiri telah menjawab surat itu.
Wakil Ketua DPRD DKI JaÂkarta ini juga mengatakan, samÂpai saat ini KPK belum meÂngiÂrimÂÂkan surat panggilan kepada diÂriÂnya. Kalau surat itu sudah diÂteÂrimanya dia akan langsung merespon. “Saya belum terima, naÂmun jika KPK merasa perlu untuk melakukan pemanggilan silakan saja,†ucapnya.
Kepala Humas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Cucu AhÂmad KurÂnia membantah keras, piÂhakÂnya telah melakukan praÂkÂtik graÂtiÂfikasi ataupun penyuapan kepada seÂjumlah anggota DPRD terkait kaÂsus Makam Mbah Priok. “MaÂsaÂlah ini sama sekali tidak ada benÂtuk gratifikasi apa pun. Kami tidak pernah menyuap para angÂgota deÂwan di daerah DKI. Lagi pula uang darimana sebaÂnyak itu,†katanya.
Meski begitu, lanjutnya, PemÂprov DKI Jakarta siap berÂkoorÂdiÂnasi dengan KPK dalam meÂnunÂtaskan kasus tersebut. “Jika KPK berniat untuk melakukan pemerikÂsaan guna mencari bukti, kami tiÂdak akan menghalangi,†tuturnya.
Dikatakan Cucu, sampai saat ini belum ada dari pihak KPK daÂtang ke tempatnya untuk meÂlaÂkuÂkan pemeriksaan. “Kalau ada bukÂti yang kuat dari KPK silakan saja, yang dikhawatirkan itu. Jika tiÂdak ada bukti yang kuat, atau seÂkadar pengamatan saja KPK suÂdah langsung bertindak. Ini jaÂngan sampai terjadi,†katanya.
Peneliti dari Masyarakat TransÂparansi Indonesia (MTI), JaÂmil Mubarok menilai, bila KPK dapat membuktikan dugaan gratifikasi terkait kasus Makam Mbah Priok itu, maka bisa mengkateÂgorikanÂnya ke dalam tindak pidana suap kepada penyelenggara negara.
“Saya melihatnya bukan lagi graÂtifikasi tetapi ini sudah bentuk peÂnyuapan terhadap anggota DPRD DKI. Jika KPK bisa meÂngaÂnalisa dengan baik maka tuÂdingan ini bisa menjadi kenyataÂan,†jelasnya.
Jamil menegaskan, dugaan suap dalam penanganan insiden berÂdarah di kasus Makam Mbah Priok, disebabkan antara lain tidak adanya kontrol terhadap eksekutif dalam meÂninÂdakÂlanjuti rekomenÂdasi dari dewan.
“Rekomendasi dewan pada saat itu kan jelas. Isi rekomedasi itu diÂanÂtaranya adalah harus adanya upaya pengusutan hukum dalam kaÂÂsus Tanjung Priok. Tidak hanya itu gubenur haÂrus berÂtangÂgung jawab dengan meÂnindak tegas baÂwaÂhanÂnya yang terbukti meÂlaÂkuÂkan peÂlangÂgaran,†ujarnya.
“Disinyalir Semua Fraksi Terlibatâ€Andi W Syahputra, Sekretaris Eksekutif GowaSekretaris Eksekutif
GoÂverÂnÂment Watch (Gowa) Andi W Syahputra mengatakan, seÂharusnya KPK memangil pihak Pemprov DKI Jakarta dalam duÂgaan gratikasi terkait kasus Mbah Priok. Pasalnya, PemÂprov juga diduga mengetahui hal tersebut.
“Saya rasa tidak hanya DPRD saja yang harus dimintai keÂterangannya.Tapi Pemprov DKI juga. Mestinya, KPK bisa meÂlihat keadaan itu. Tapi fakÂtanya, kenapa KPK pada waktu itu hanya memanggil 10 orang untuk klarifikasi, semenÂtara jumlah anggota di DPRD DKI leÂÂbih dari sepuluh dan diÂsiÂnyalir seÂmua fraksi terlibat daÂlam peÂnerimaan ini. Jangan ragu lagi, segera lakukan peÂmangÂgilÂan kedua untuk mereka dan taÂnyaÂkan lebih dalam lagi meÂngeÂnai perkara ini,†katanya, kemarin.
Lebih lanjut Andi menegasÂkan, bila nanti ada anggota DPRD DKI Jakarta atau pejabat PemÂprov yang mangkir dari pemanggilan KPK, maka bisa melakukan panggilan secara paksa. “Kalau tidak mau harus dipaksa. Kalau tetap mangkir berÂarti ada sesuatu yang dituÂtupi dan saya kira itu yang harus dibuka ke publik,†cetusnya.
Makanya Andi menyesalkan kinerja KPK yang sampai saat ini belum bisa menuntaskan dugaan gratifikasi terkait kasus Mbah Priok. “Bila sampai saat ini belum diselesaikan, saya menÂduga kasus itu akan diÂluÂpakan,†sesalnya.
“Kalau Terbukti Segera Tangkapâ€Desmon Junaidi Mahesa, Anggota Komisi III DPRPolitisi Senayan mengÂimbau Komisi Pemberantasan KoÂrupsi (KPK) untuk segera meÂnuntaskan kasus dugaan peÂnerimaan gratifikasi terkait kaÂsus Makam Mbah Priok tanpa tebang pilih.
“KPK sebetulnya bisa cepat meÂnyelesaikan masalah ini kaÂlau memang betul-betul meÂlaÂkukan investigasi secara tepat,†kata anggota Komisi III DPR, DesÂmon Junaidi Mahesa, kemarin.
Menurutnya, kasus ini mirip dengan kasus dugaan gratifikasi yang terjadi di DPRD Kaltim pada komisi A. Menurutnya, jika KPK tidak bisa menyeÂleÂsaikan kedua kasus gratifikasi itu, maka Ketua KPK yang baru diÂdesak untuk bisa meÂnyeÂlesaikannya.
“Ketua KPK yang baru harus mempunyai program khusus untuk menyelesaikan permasaÂlahÂan gratifikasi yang terjadi di DPRD DKI Jakarta dan juga Kaltim,†ujarnya.
Politisi Gerindra ini meÂnyaÂranÂkan kepada lembaga superÂbody itu tidak takut terhadap para pejabat daerah yang terÂbukti melakukan penyuapan atau korupsi.
“Kalau KPK sudah punya datanya, harus berani meÂninÂdakÂlanjuti kasus itu secara tunÂtas. Semua yang terlibat harus diproses. Saya berharap KPK tidak teÂbang pilih,†katanya.
Sebagai sesama wakil rakyat Desmon mengingatkan kepada koleganya di DPRD DKI JaÂkarta, jangan sampai menÂcoreng amanat yang diberikan masyarakat. Peristiwa tersebut telah dinodai dengan adanya nyawa yang hilang, maka lanjut dia, jangan ternodai penyuapan.
“Kita nggak bisa mentolelir lagi, nyawa sudah hilang masih sempet-sempetnya terima suap. Makanya, KPK harus tanggap dalam memanfaatkan situasi dan kondisi. Kalau benar terÂbukti adanya dugaan peÂnyuaÂpÂan, kami sebagai anggota DeÂwan menyatakan segera tangÂkap,†ujarnya.
[RM]
BERITA TERKAIT: