WAWANCARA

Said Aqil Siradj: Rakyat Butuh Tindakan Nyata Polisi Ungkap Motif Penganiayaan Pendeta

Rabu, 15 September 2010, 06:15 WIB
Said Aqil Siradj: Rakyat Butuh Tindakan Nyata Polisi Ungkap Motif Penganiayaan Pendeta
RMOL. Polisi diminta tidak hanya pandai berkata-kata, tapi berbuatlah secara nyata, untuk mengungkap motif penganiayaan terhadap pendeta Luspida boru Simanjuntak dan panitua Hasian Lumbantoruan Sihombing.

Tindakan ini perlu cepat dila­ku­kan, sehingga tidak me­nim­bulkan persepsi macam-macam di kalangan masyarakat.

“Rakyat butuh tindakan nyata dari polisi untuk mengungkap mo­tif penganiayaan pendeta. La­ku­kanlah secara cepat tapi aku­rat,” ujar Ketua Umum Pengu­rus Besar Nahdlatul Ula­ma (PBNU), Said Aqil Siradj, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Said mengecam tindakan ke­kerasan terhadap pendeta dan pa­nitua Huria Kristen Batak Pro­tes­tan (HKBP), Pondok Timur In­dah, Bekasi, Minggu pagi, se­hing­ga kedua korban masih di­ra­wat secara intensif di ICU Rumah Sakit Mitra Keluarga, Bekasi.

“Agama manapun tidak men­to­lerir tindakan kekerasan seperti itu. Atas nama apa pun, kepada sia­pa pun. Tindak kekerasan itu tidak dibenarkan,” tambahnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa Anda yakin polisi pro­fe­sional dan obyektif menangani ka­sus itu?
Rakyat tentunya butuh tin­dak­an nyata. Jadi, polisi harus ber­tin­dak cepat untuk menangkap pelaku dan mengungkap kasus penga­niayaan ini. Itu tu­gas polisi agar cepat menangkap pelaku itu. Jangan sampai ada yang main hakim sendiri.

Ada yang menduga polisi ti­dak bakal mengungkap kasus itu ka­rena dikhawa­tirkan me­­­micu kon­flik lebih besar, bagai­mana pen­dapat Anda?
 Penganiayaan terhadap orang yang mau ke Gereja me­rupakan tindakan yang tidak bera­dab. Aga­ma mana pun tidak men­to­le­rir tindakan seperti itu.

Jadi, kasus ini harus diungkap secara tuntas. Jangan ditutup-tu­tupi. Kalau tidak diungkap, kasus yang sama bisa terjadi lagi di kemudian hari.

Jadi, kita harus dorong ke­po­lisian untuk mengungkap kasus itu, kita beri masukan, dan kita back-up untuk menegakan hu­kum yang benar. Kita yang dari or­mas, Lembaga Swadaya Ma­syarakat (LSM) harus bersifat ob­yektif. Jangan cenderung me­mihak.

Intinya, polisi harus ungkap ka­sus itu. Sebab,  dikhawatirkan ada upaya adu domba dari pihak ketiga.

Maksudnya?
Saya khawatir malah ada order yang ingin memecah belah. Ma­ka­nya kita harapkan agar polisi ce­pat menangkap pelakunya. Sia­pa di belakang penganiayaan itu. Jangan sampai ada yang main ha­kim sendiri. Jadi,  jangan ter­pancing.

Kalau kondisi seperti ini tidak di­tuntaskan, apa ini bisa men­jadi bom waktu?
Ya betul. Negara kita ber­da­sar­kan hukum, jadi tun­taskanlah se­cara hukum. Kalau di­biarkan ma­ka akan ber­kem­bang menjadi kon­flik horizontal. Ini memba­ha­yakan.

O ya, apa yang sudah dila­ku­kan PBNU  setelah mendengar kasus itu?
Ya, dengan adanya kejadian itu, saya langsung kontak ke pe­ngurus NU Bekasi. Dan mereka me­njamin kalau warga NU tidak me­lakukan seperti itu. Jadi, yang me­lakukan pasti bukan warga NU. Soalnya,  puluhan juta warga NU terkendali, tidak ada yang main hakim sendiri.

Bagaimana kalau PBNU di­min­ta bantuannya?
 Kalau NU diminta bantuan, kami siap membantu  pemerintah un­tuk menjaga keamanan dan ke­damaian. Tapi sampai sekarang per­mintaan itu belum ada.

Kira-kira apa yang salah, se­hing­ga cenderung bertindak ma­in hakim sendiri?
Pendidikan agama yang mi­nim. Selain itu tidak menentunya arah perjalanan pemerintah, se­hingga timbul rasa tidak percaya diri. Makanya ingin bertindak main hakim sendiri.

Yang lainnya, rakyat cende­rung kurang percaya dengan pe­negak hukum, sehingga men­cip­takan main hakim sendiri. Itu tidak benar. Kita harus mem­per­ca­yakan keamanan pada ke­po­lisian. Kalau masih ada hal yang ku­rang benar, kita dorong, kita kritik, dan kita beri masukan bagi pe­negak hukum, sehingga ki­nerjanya lebih baik. Apa artinya ber­negara dan berkonstitusi, ka­lau tidak ada rasa percaya.

O ya, konflik sering terjadi ka­­re­na salah paham, bagai­mana so­lusi terbaik?
Makanya perlu komunikasi. Itu hanya kurang pendekatan saja. Tapi saya yakin kalau ada pende­kat­andan mau berunding dengan niat yang baik dan pikiran yang jer­nih, semua bisa. Dimana-mana bisa membangun tempat ibadat kok. Asal semua yakin tidak ada dilecehkan secara psikologis. Jangan sampai ada seperti itu. 

Jadi kurang pendekatan, dan silahturahim. Silahturahim bukan hanya mau membangun tempat iba­dah saja. Setiap hari kita ba­ngun pendekatan itu, terutama me­lakukan berbagai kerja sama apa saja. Contohnya, melakukan bakti sosial bersama.

Selian itu, kembalikan semua ke­pada aturan.  Soal izin pem­ba­ngunan tempat ibadah itu urus­an pemerintah.  [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA