WAWANCARA

Erwin Aksa, Ketum Kadin Harus Bisa Jembatani Pelaku Usaha dengan Pemerintah

Selasa, 14 September 2010, 04:13 WIB
Erwin Aksa, Ketum Kadin Harus Bisa Jembatani Pelaku Usaha dengan Pemerintah
RMOL. Kursi Ketua Umum Kamar Da­gang dan Industri Indonesia (Ka­din) periode 2010-2015 di­nilai sangat strategis untuk mem­per­baiki ekonomi di negeri ini.

Untuk itu dibutuhkan figur yang pas, yakni orang itu harus me­ngerti   organisasi Kadin, de­kat dengan pengurus Kadin di dae­rah, orang itu harus diterima pe­merintah demi mewujudkan te­robosan-terobosan demi me­ngangkat ekonomi kerakyatan.    

Selain itu, orang itu juga harus bisa menjembatani  pengurus Kadin dengan asosiasi-asosiasi atau perhimpunan-perhimpunan dunia usaha.

Inilah yang perlu diperhatikan oleh 129 peserta yang punya hak pilih dalam  Musyawarah Nasio­nal (Munas) Kadin yang dilak­sa­na­kan di Jakarta, 24-26 September 2010.

Sampai saat ini  beredar sejum­lah calon kuat, yakni Sandiaga S Uno (Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM dan Koperasi), Suryo Bambang Sulisto (Ketua De­wan Pertimbangan Kadin), Chris Kanter (Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Investasi dan Logistik),  dan Wishnu Wardhana (Wakil Ketua Umum Kadin Bi­dang Keuangan Nonbank dan Pasar Modal Indonesia).

Tapi hari ini calon bertambah satu lagi. Sebab, Adi Putra Tahir (Ketua Umum Kadin) akan men­deklarasikan diri ikut bertarung memperebutkan kursi Ketua Umum Kadin periode 2010-2015.

‘’Ketua Umum Kadin periode mendatang memang sangat strategis, jadi dibutuhkan orang yang kapabel dan mampu me­ngangkat kapasitas dunia usaha,’’ ujar Ketua Umum Himpunan Pe­ngusaha Muda Indonesia (Hipmi), Erwin Aksa, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Anda melihat sosok Ketua Umum Kadin periode 2010-2015 seperti apa?
Saya kira Kadin adalah lem­ba­ga dunia usaha yang sangat stra­tegis dan penting, jadi memang ha­rus dinahkodai orang yang ka­pabel dan mampu mengangkat ka­pasitas dunia usaha secara keseluruhan.

Siapa yang pas di antara calon yang ada?
Saya tidak mau menyebutkan na­ma, tapi  orang itu harus mam­pu menggerakkan ekonomi se­cara nasional. Jadi, harus dite­ri­ma semua komponen dunia usaha.

Bagaimana Anda melihat dari calon yang ada?
Artinya semua calon yang ada itu punya track record tersendiri, semua punya catatan dan punya program yang dimiliki dan sudah dipresentasikan langsung kepada masing-masing peserta, para pe­milih. Dan tentunya kita ber­ha­rap, peserta memilih yang ter­baik. Kita harapkan Ketua Umum Kadin yang terpilih nanti bisa le­bih berperan daripada yang sela­ma ini diperbuat oleh Kadin.

Dari keempat ini, siapa yang paling berpeluang?
Saya tidak etis menyebut nama tapi tentunya dari semua itu punya track record, tinggal kita pilih siapa yang terbaik pada saatnya nanti. 

Jadi Hipmi belum memutus­kan siapa yang paling layak didukung?
Semuanya adalah kader dan te­man-teman dari Hipmi. Sandiaga Uno dan Adi Putra Tahir adalah be­kas Ketua Umum Hipmi, Wis­nu Wardhana anggota Hipmi, Chris Kanter, salah satu Ketua Hip­mi pada saat itu. Kemudian Sur­yo juga adalah anggota Hip­mi. Jadi, semua calon adalah ke­luarga besar Hipmi. Tapi yang ter­baiklah yang tentunya akan ja­di Ketua Umum Kadin.

Apa Hipmi menjadi peserta?
Kalau himpunan dan asosiasi itu ada namanya konvensi, jum­lah­nya sekitar 200 himpunan dan aso­siasi. Tapi yang bisa ikut da­lam Munas hanya 30.  Hipmi ten­tunya berusaha menjadi salah sa­tu peserta melalui konvensi yang dilaksanakan satu hari sebelum Mu­nas. Nanti dalam konvensi ini yang memutuskan siapa yang ber­hak ikut dan tentunya harus men­dapatkan dukungan dari ber­bagai pihak karena akan dikeru­cutkan dari 200 menjadi 30.

Jika Hipmi menjadi  peserta, apakah mendeklarasikan du­ku­ngan kepada siapa?
Saya kira Hipmi akan tetap netral karena semuanya adalah keluarga besar Hipmi. Jadi, siapapun yang terpilih, kami cukup bangga.

O ya, tantangan yang diha­da­pi Ketua Umum Kadin se­perti apa?
Demi memajukan dunia usaha, tentu harus membangun ko­mu­ni­kasi-komunikasi yang positif, baik Kadin dengan pelaku usaha, Ka­din dan pemerintah, Kadin Pu­sat dan Kadin daerah. Intinya, Ka­din harus mampu menjem­ba­tani kepentingan pelaku usaha de­ngan pemerintah. Dengan cara itulah Kadin bisa terus dihargai oleh dunia usaha agar bisa men­ciptakan peranan-peranan stra­te­gis bagi perkembangan ekonomi dan dunia usaha kita.

Kalau itu tidak lakukan, nan­ti­nya saya yakin banyak orga­ni­sasi-organisasi usaha tidak me­lihat lagi Kadin sebagai tempat yang bisa memberi peranan stra­tegis kepada ekonomi kita.

Bagaimana kontribusi Kadin selama ini?
Kadin kan mitra pemerintah un­tuk dunia usaha. Artinya lem­baga ini harus lebih banyak ber­peran di dalam melihat dan juga ikut menciptakan suasana eko­no­mi, bisnis dan usaha-usaha yang lebih baik, khususnya dalam im­ple­mentasi aturan-aturan, kebi­ja­kan, undang-undang yang terkait dengan ekonomi dan perbankan. Ini demi menggerakkan roda ekonomi kita agar lebih baik.

Siapa yang bisa menjem­batani itu ?
Tadi kan saya sudah bilang, saya nggak mau menyebut orang. Yang jelas, peranan Kadin harus lebih baik ke depan. Artinya Kadin harus menjadi jembatan dan menjadi mitra buat orga­nisasi-organisasi dunia usaha. Kadin ini adalah sebagai  bapak organisasi-organisasi dunia usaha yang ada, sehingga harus mampu  menjadi roda penggerak dari semua organisasi itu.

Apa koordinasi dengan Hip­mi sudah berjalan ?
Kadin masih organisasi yang pu­nya legitimasi tinggi dari pe­merintah. Makanya semua or­ga­nisasi yang berkaitan dengan dunia usaha, ya harus berada di bawah Kadin.

 Untuk itu dibutuhkan figur pe­mimpin yang bisa menjembatani dan merangkul semua kalangan du­nia usaha di Indonesia untuk ber­satu membangun ekonomi. Ki­ta tak ingin Kadin dijadikan alat untuk kepentingan.

Selama ini Kadin kurang kritis terhadap pemerintah, apa itu strategi jitu ?
Seringkali Kadin dikatakan ter­lalu dekat dengan pemerintah ka­re­na sebagai mitra,  tapi se­ha­rus­nya bisa memberikan masu­kan yang kritis yang bisa mem­per­­ce­pat kebijakan positif, yang pro­­gresif seperti yang diingin­kan du­nia usaha.

Artinya siapapun yang ter­pilih harus tetap kritis?
Tentunya harus kritis dalam arti membangun, bukan kritis tanpa so­lusi. Kita kritis tapi mem­be­ri­kan solusi yang baik.  [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA