WAWANCARA

Anas Urbaningrum: Saat Kecil Saya Sering Takbiran Keliling Kampung

Sabtu, 11 September 2010, 08:55 WIB
Anas Urbaningrum: Saat Kecil Saya Sering Takbiran Keliling Kampung
RMOL. Apa makna Idul Fitri menu­rut Anda?
Idul Fitri bagi saya, secara spi­­ritual adalah ke­sem­pa­tan terbaik untuk meningkatkan kualitas diri. Memetik hikmah dari masa ujian yang telah di la­lui sebulan penuh berpuasa, Idul Fitri itu seperti kelulusan spi­ri­tual dari seorang muslim.

Karena dengan Idul Fitri, seorang muslim yang men­ja­lankan puasa dengan baik, ber­hasil membakar dosa, ke­khi­lafan, dalam konteks hu­bu­ngan vertikal.

Tidak hanya itu, saya melihat Idul Fitri sebetulnya mem­pu­nyai pesan moral untuk ma­sya­rakat, bagaimana membina hu­bungan pergaulan sosial yang baik dan harmonis, karena spirit Idul Fitri saling memaafkan, spi­ritnya menghilangkan dendam dan permusuhan. Hal tersebut sangat penting  dalam pergaulan kebang­sa­an kita yang majemuk.  

Idul Fitri  juga sebetulnya kesem­patan mentransformasikan ke­sa­leh­an personal menjadi kesalehan sosial atau publik, jadi bukan ha­nya ber­fikir kebaikan pribadi, tapi berfikir bagaimana kemaslahatan publik.

Apa saja aktivitas yang bia­sa­nya Anda lakukan saat Lebaran?
Lebaran itu kan kesempatan yang terbaik untuk silaturahim. Ya , saya biasanya berkumpul dengan ke­luar­ga besar, saudara, sahabat-sahabat la­ma, untuk saling meminta maaf.

Anda Mudik tahun ini?
Setiap tahun saya mudik. Untuk pertama kalinya tahun ini mudik di hari kedua Lebaran. Renca­na­nya, hari per­tama saya shalat Id di Jakarta, hari kedua ke Jogja dan hari ketiga ke Blitar.

Anda sering mengalami ma­cet dong saat mudik?
Saya beberapa kali mudik de­ngan kendaraan pribadi.  Saya pernah mengalami kemacetan yang luar biasa..he..he.. Tetapi al­ham­dulilah, kalau saya mudik de­ngan transportasi lain, saya nggak pernah kehabisan tiket.

Saat kuliah Anda merantau. Ada pengalaman suka-duka berpuasa atau Lebaran di kam­pung orang?  
Ada. Saat kuliah, saya biasa pulang kampung H-2 sebelum hari Lebaran. Itu saya lakukan agar saya bisa malam takbiran di kampung. Tetapi saya pernah ba­ru pulang H-1 karena banyak tugas kuliah yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya saya tak­bir­an di Jalan. Saya merasa suasana hati tidak nyaman, seperti ada yang hilang. Nggak nikmat betul ra­sa­nya. Karena biasanya saya tak­bir­an kumpul di masjid dengan te­man-teman, dengan orang se­kam­pung. Saya senang lihat anak-anak kecil takbiran keliling kam­pung, karena itu bagian dari me­mori lalu. Saat kecil saya biasa takb­iran keliling kampung.

Banyak orang saat Lebaran, bagi-bagi ampao kepada sanak saudara, bagaimana tradisi di keluarga Anda?
Sama saja. Salam tempel itu ba­gian tradisi lebaran di Indo­nesia. Saat kecil, momentum Le­baran, bagi-bagi ampao sa­ngat dinanti-nanti. Kalau ba­ha­sa ja­wanya sa­ngu, jadi tradisi salam tempel itu selalu ber­lan­jut sam­pai seka­rang. Saya kini me­maha­mi tra­disi itu sebagai bagian dari pe­mahaman secara kultural, me­tode men­jaga hu­bu­ngan dengan ke­luarga besar, khu­susnya ge­nerasi baru. Yang terpenting niat­nya membangun kesan po­sitif. Ketika saya masih anak-anak, orang tua saya dulu ber­hasil membangun kesan yang po­sitif, maka saya juga akan me­lanjutkan tradisi itu un­tuk sau­dara-saudaranya bapak, atau ke­luarga dari Ibu untuk memp­rak­tekkan tanda kasih sayang, yang penting nggak berlebih-lebihan.

Anda punya makanan fa­vo­rit saat merayakan Idul Fitri?
Nggak ada, sama dengan ma­syarakat Indonesia secara umum, yang jelas ada ketupat atau lontong, nggak berlebih-lebihan dan yang terpenting bagaimana kita bisa berbagi dengan sesama.

Bagaimana puasa Anda tahun ini?
Saya belajar puasa itu sejak ke­las dua SD, Alhamdulillah puasa­nya selalu lulus. Karena itu, saya tanamkan sedini mung­kin kepada anak-anak saya, anak pertama, kedua dan ketiga, alhamdulillah So far full pua­sanya, Cuma yang pa­ling kecil aja masih TK jadi ka­dang suka bolong.

Menurut Anda, kehidupan politik dengan Idul Fitri, ada kaitannya tidak?
Pergaulan nggak boleh diba­tasi oleh sekat-sekat ke­partaian atau sekat-sekat posisi di dalam pe­me­rintahan. Saya kira spirit seperti itu diterima luas oleh teman-te­man dari kalangan partai apapun. Al­hamdulillah saya punya ko­mu­nikasi yang baik, tidak ter­hambat dengan partai apapun ya­ng secara politik mengambil jalan oposisi. Apa­lagi  saya punya hubungan baik dengan kawan-kawan oposisi secara personal. [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA