Idul Fitri bagi saya, secara spiritual adalah kesempatan terbaik untuk meningkatkan kualitas diri. Memetik hikmah dari masa ujian yang telah di lalui sebulan penuh berpuasa, Idul Fitri itu seperti kelulusan spiritual dari seorang muslim.
Karena dengan Idul Fitri, seorang muslim yang menjalankan puasa dengan baik, berhasil membakar dosa, kekhilafan, dalam konteks hubungan vertikal.
Tidak hanya itu, saya melihat Idul Fitri sebetulnya mempunyai pesan moral untuk masyarakat, bagaimana membina hubungan pergaulan sosial yang baik dan harmonis, karena spirit Idul Fitri saling memaafkan, spiritnya menghilangkan dendam dan permusuhan. Hal tersebut sangat penting dalam pergaulan kebangsaan kita yang majemuk.
Idul Fitri juga sebetulnya kesempatan mentransformasikan kesalehan personal menjadi kesalehan sosial atau publik, jadi bukan hanya berfikir kebaikan pribadi, tapi berfikir bagaimana kemaslahatan publik.
Apa saja aktivitas yang biasanya Anda lakukan saat Lebaran?
Lebaran itu kan kesempatan yang terbaik untuk silaturahim. Ya , saya biasanya berkumpul dengan keluarga besar, saudara, sahabat-sahabat lama, untuk saling meminta maaf.
Anda Mudik tahun ini?
Setiap tahun saya mudik. Untuk pertama kalinya tahun ini mudik di hari kedua Lebaran. Rencananya, hari pertama saya shalat Id di Jakarta, hari kedua ke Jogja dan hari ketiga ke Blitar.
Anda sering mengalami macet dong saat mudik?
Saya beberapa kali mudik dengan kendaraan pribadi. Saya pernah mengalami kemacetan yang luar biasa..he..he.. Tetapi alhamdulilah, kalau saya mudik dengan transportasi lain, saya nggak pernah kehabisan tiket.
Saat kuliah Anda merantau. Ada pengalaman suka-duka berpuasa atau Lebaran di kampung orang?
Ada. Saat kuliah, saya biasa pulang kampung H-2 sebelum hari Lebaran. Itu saya lakukan agar saya bisa malam takbiran di kampung. Tetapi saya pernah baru pulang H-1 karena banyak tugas kuliah yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya saya takbiran di Jalan. Saya merasa suasana hati tidak nyaman, seperti ada yang hilang. Nggak nikmat betul rasanya. Karena biasanya saya takbiran kumpul di masjid dengan teman-teman, dengan orang sekampung. Saya senang lihat anak-anak kecil takbiran keliling kampung, karena itu bagian dari memori lalu. Saat kecil saya biasa takbiran keliling kampung.
Banyak orang saat Lebaran, bagi-bagi ampao kepada sanak saudara, bagaimana tradisi di keluarga Anda?
Sama saja. Salam tempel itu bagian tradisi lebaran di Indonesia. Saat kecil, momentum Lebaran, bagi-bagi ampao sangat dinanti-nanti. Kalau bahasa jawanya sangu, jadi tradisi salam tempel itu selalu berlanjut sampai sekarang. Saya kini memahami tradisi itu sebagai bagian dari pemahaman secara kultural, metode menjaga hubungan dengan keluarga besar, khususnya generasi baru. Yang terpenting niatnya membangun kesan positif. Ketika saya masih anak-anak, orang tua saya dulu berhasil membangun kesan yang positif, maka saya juga akan melanjutkan tradisi itu untuk saudara-saudaranya bapak, atau keluarga dari Ibu untuk mempraktekkan tanda kasih sayang, yang penting nggak berlebih-lebihan.
Anda punya makanan favorit saat merayakan Idul Fitri?
Nggak ada, sama dengan masyarakat Indonesia secara umum, yang jelas ada ketupat atau lontong, nggak berlebih-lebihan dan yang terpenting bagaimana kita bisa berbagi dengan sesama.
Bagaimana puasa Anda tahun ini?
Saya belajar puasa itu sejak kelas dua SD, Alhamdulillah puasanya selalu lulus. Karena itu, saya tanamkan sedini mungkin kepada anak-anak saya, anak pertama, kedua dan ketiga, alhamdulillah
So far full puasanya, Cuma yang paling kecil aja masih TK jadi kadang suka bolong.
Menurut Anda, kehidupan politik dengan Idul Fitri, ada kaitannya tidak?
Pergaulan nggak boleh dibatasi oleh sekat-sekat kepartaian atau sekat-sekat posisi di dalam pemerintahan. Saya kira spirit seperti itu diterima luas oleh teman-teman dari kalangan partai apapun. Alhamdulillah saya punya komunikasi yang baik, tidak terhambat dengan partai apapun yang secara politik mengambil jalan oposisi. Apalagi saya punya hubungan baik dengan kawan-kawan oposisi secara personal.
[RM]
BERITA TERKAIT: