RMOL.Sandiaga S Uno sudah santer disebut-sebut sebagai calon kuat Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Tapi orang muda terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes itu, tidak mau diungkit-ungkit soal pencalonan tersebut.
Bagi jebolan Wichita State University Amerika Serikat itu, yang paling utama dibicarakan adalah soal gagasan agar ekonomi Indonesia lebih baik ke depan.
“Jadi targetnya bukan posisi Ketua Umum Kadin, tapi ingin mewujudkan Indonesia yang lebih baik,’’ ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Koperasi itu, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya dengan bekas Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) itu:
Berarti Anda ke daerah bukan berkampanye agar dipilih menjadi Ketua Umum Kadin?
Saya tidak mengatakan agar saya dipilih, tapi saya menawarkan gagasan. Apa yang saya sampaikan itu, disambut positif di 22 daerah yang sudah saya kunjungi. Sebab, saya ketuk hati mereka. Alhamdulillah mereka menangkap gagasan saya secara baik. Ini yang membuat saya senang.
Apa gagasannya itu?
Antara lain keberpihakan terhadap UMKM. Sebab, ada 51 juta bergerak di bidang ini. 98 persen di antaranya usaha mikro yang lebih banyak informal. Ini yang perlu diperhatikan demi perbaikan ekonomi ke depan.
Anda melihat belum maksimal keberpihakan terhadap UMKM itu ya?
Keberpihakan kebijakan terhadap ekonomi rakyat ini belum adil. Padahal, ekonomi kita ini ditentukan di bidang ini.
Seharusnya pengusaha yang besar itu mengalah, agar pengusaha kecil itu bisa maju. Tapi yang terjadi sebaliknya, pengusaha besar mendrive kebijakan ekonomi kita. Padahal, pengusaha besar itu hanya 4.000-an orang, tentu ini tidak banyak dibanding yang bergelut di UMKM. Ini yang saya jembatani dengan flatform baru ke depan.
Apakah Kadin sudah menggalakkan ini?
Sudah kita mulai 6 tahun lalu melalui suatu program keberpihakan Kadin terhadap UMKM. Sudah ada yang direspons pemerintah, tapi belum maksimal. Makanya perlu terus digalakkan.
Bagaimana dengan pengusaha besar itu?
Ini juga harus berkembang, pola lingkar itu harus tetap terjalin. Artinya, pengusaha besar jalan, tapi pengusaha UMKM juga jalan. Usaha kecilnya itu bukan kendala tapi ikut mendorong. Dengan begini ekonomi kita akan lebih hidup.
Ini tentunya akan memberikan lapangan kerja dan tentunya akan lebih banyak manfaat kepada komunitasnya. Sebab, dari mikro menjadi kecil, kecil menjadi menengah, menengah bisa menjadi besar.
Apa strategi mewujudkan itu?
Kuncinya ada tiga. Pertama, faktor pembiayaan. Kita sudah dorong penyediaan kredit agar mereka bisa survive. Kedua, sumber daya manusia. Akses SDM ini sangat penting untuk kita bersaing dan mampu menerapkan inovasi dan teknologi di UMKM. Kita harus rubah paradigma itu. SDM harus kita tingkatkan dan dorong untuk mengaplikasi teknologi terapan yang tepat untuk meningkatkan kinerja dan meningkatkan daya saing UMKM.
Ketiga, kita harus memberikan akses mereka terhadap pasar, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Produk luar seperti KFC dan MC Donald sangat marak di Indonesia. Sudah saatnya kita setara, kita dorong juga Ayam Goreng Suharti, rumah makan Padang Sederhana ada di luar negeri, terutama yang banyak warga Indonesia, seperti di Hong Kong, Jepang, dan Belanda.
Apa sudah dilakukan?
Itu yang sekarang lagi kita lakukan. Dengan cara itu, kita bisa pertontonkan kepada etalase dunia. Bahwa Indonesia juga sanggup menciptakan brand-brand yang dikena,l bukan hanya dalam kapasitas nasional tapi juga kapasitas internasional.
Tapi apa bisa ini semua terwujud kalau infrastruktur tidak diperbaiki?
Betul, selain menciptakan iklim usaha yang kondusif, juga tersedianya pembangunan infrastruktur, penghapusan biaya ekonomi tinggi, penghapusan perdagangan-perdagangan yang selama ini tumpang tindih dengan peraturan pusat menghambat dunia usaha.
Bayangan saya untuk Indonesia bisa maju dengan kemudahan maka usaha kita harus naik dari 122 menjadi 40 besar di dunia.
Iklim yang kondusif dan pembangunan infrastruktur kita sangat lemah sekali. Ekonomi kita sangat tidak efisien. Makanya perlu reformasi birokrasi.
Kira-kira berapa tahun bisa mendapatkan hasil signifikan?
Mungkin di akhir tahun 2020 kita sudah masuk 10 besar ekonomi dunia. Jadi kita sudah bisa bangga melewati ekonomi Belanda dan Portugal. Mungkin 2030 kita naik lagi menjadi ekonomi terbesar nomor 7 di atas Inggris. Mudah-mudahan pada saat yang sama kita sudah berada di atas Jepang.
Ini berarti kemiskinan berkurang dong?
Kemiskinan saya kira bisa diturunkan di bawah angka 8 persen. Pengangguran bisa kurang di bawah 6 persen, inflasi 6 persen. Pertumbuhan ekonomi 6,7 persen. Dengan pilar itu, jelas ekonomi kita bersaing dengan negara maju.
Apakah Anda punya konsep agar gernerasi muda punya minat buka usaha ketimbang cari kerja?
Kami bekerja sama dengan Hipmi dan lembaga-lembaga lain untuk turun ke kampus, menceritakan bagaimana kesuksesan menjadi pengusaha. Pengusaha bukan mencari kekayaan tapi mencari pencapaian.
Selain itu, pendidikan kita dorong agar kurikulumnya lebih mengakomodir mata-mata kuliah yang berorientasi pada dunia usaha, yaitu lebih banyak praktek dan magang.
Kemudian merubah kultur yang senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. Begitu ada yang sukses selalu diprasangka buruk, dan berupaya untuk dijatuhkan. Ini yang harus kita ubah.
Caranya?
Kalau ada wirausaha sukses, kita katakan, wah hebat ya dia. Kemudian harus dihilangkan juga soal rasa takut kepada risiko, dan takut pada kegagalan.
O ya, Anda tidak mau masuk parpol, padahal itu jembatan bisa menduduki jabatan eksekutif?
65 tahun Indonesia merdeka kita hanya mampu mencetak 400-an ribu pengusaha, berarti 0,18 persen dari total populasi. Padahal, minimum kita harus punya 5 juta pengusaha di Indonesia. Ini memperlihatkan minat elemen bangsa lebih cenderung ke politik ketimbang ke usaha. Jadi, berkaitan dengan itu, untuk saat ini belum berpikir masuk parpol. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: