RMOL.Jimly Asshiddiqie sebelumnya sudah menyatakan tidak masuk dua besar calon Ketua KPK gara-gara tidak bersedia menjadi Wakil Ketua KPK.
Tapi saat diwawancarai Rakyat Merdeka, Jumat (27/8), bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu mengaku, dirinya tidak terlalu memaksakan diri untuk mengejar jabatan Ketua KPK.
“Ya, nggak usah terlalu memaksakan diri. Nggak dipilih, ya terima saja secara ikhlas. Berarti saya bukan orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Apa yang dilakukan Pansel sudah bagus,” katanya.
Berikut petikan selengkapnya:
Apa benar-benar ikhlas?
Ya sudahlah. Kita terima saja, kan panitia sudah bekerja maksimal.
Anda lihat apakah ini sebuah kegagalan?
Ah, nggaklah. Justru ini kan prosesnya transparan. Iya kan. Kita terima saja, kita hormati kalau sudah diputuskan. Ya sudah nanti tinggal DPR yang akan memutuskannya. Kita harus biasakan kayak gitu. Mencari jabatan kan juga jangan terlalu memaksakan diri.
Kecewa tidak dengan hasil ini karena gugur di tahap akhir?
Nggak. Nggak. Karena memang saya tidak mungkin kalau jadi wakil ketua, saya tidak bersedia. Ya itu saja. Terserah saja kalau mau ditulis di headline Rakyat Merdeka, he-he... Saya tidak bisa bohong dan tak mau juga bohong. Berdiplomasi-berdiplomasi nggak bisa saya itu. Kalau ditanya bersedia nggak jadi wakil, nggak bersedia saya.
Emang kenapa nggak mau jadi Wakil Ketua KPK, apa gara-gara pernah menjadi Ketua MK?
Nggak ada kaitannya dengan itu. Saya tidak bersedia kalau jadi wakil. Jadi kalau itu alasannya nggak apa-apa kan. Memang obyektif bahwa saya tidak mungkin, tidak mau saya. Kalau saya ditanya atau bersedia jadi wakil ketua saja, ya saya mesti jawab dengan jujur bahwa saya tidak bersedia.
Pertanyaan itu dilontarkan Syafi’i Maarif, Anda melihatnya ini sebuah pertanyaan jebakan?
Nggak. Itu bukan jebakan. Saya memang tidak mau kalau cuma jadi wakil ketua. Dan saya juga tidak boleh bohong pada diri saya sendiri kan.
Tapi di KPK kan kepemimpinannya kolektif kolegial, Ketua dan Wakil Ketua sama kedudukannya?
Ya, saya tahu. Di MK juga begitu. MK juga kolektif kolegial dengan sembilan hakim. Sedangkan di KPK hanya 5 orang. Sebenarnya nggak ada yang khusus sebagai ketua. Misalnya buat statemen, itu kan statemen pribadi, bukan statemen institusi. Kalau institusi itu di keputusan lembaga, keputusan resmi.
Lalu mengapa nggak mau, apa ini strategi agar tidak dipilih?
Nggak, saya sungguh-sungguh kok. Begini, saya mau ya menjadikan jabatan itu bukan segala-galanya. Di zaman demokrasi yang baru mekar begini, semua orang kan mengejar-ngejar jabatan, kalau nanti sudah dapat, ‘dikekep’ itu jabatan supaya jangan lepas. Apa saja dikerjakan untuk mendapatkan dan menjaga jabatan walaupun nanti sudah dapat, tapi nggak kerja apa-apa.
Jadi itu namanya kultur politik yang masih berkembang. Kultur politik seperti itu dalam demokrasi yang baru mekar. Nah saya itu ingin memperlihatkan nggak begitu jabatan itu. Datang dan pergi, itu ringan-ringan saja. Iya kan. Nggak dipercaya, loh ya mau diapain, ha-ha...Ya sudah, nggak apa-apa, gitu saja, nggak usah terlalu ngoyo.
Maksudnya?
Ya nggak usah terlalu memaksakan diri, melakukan apa saja gitu loh. Ya kan, terima saja. Artinya orang belum melihat kita sebagai yang tepat untuk pekerjaan itu. Terima saja secara ikhlas, itu sudah bagus.
Apa masih berminat mendaftar calon Ketua KPK periode berikutnya?
Nggak. Saya kan cuma berminat untuk satu tahun ini. Satu tahun kalau nanti sudah beres, terserah selanjutnya kan, mau dipilih lagi boleh, nggak ya apa-apa. Tapi sekarang nggak dipilih, ya sudah.
Terhadap dua calon yang lolos bagaimana pendapanya?
Dua-duanya bagus. Saya rasa tidak sulit bagi DPR untuk memilihnya.
O ya, apa harapannya untuk pemberantasan korupsi?
Ya kita berharap supaya lebih baik. Supaya korupsi lebih efektif diberantasnya, tidak seperti selama ini. Ada KPK, nggak ada KPK kan nggak ada pengaruhnya apa-apa. Jumlah koruptornya tambah banyak, ha-ha-ha. Itu artinya ada yang kurang tepat cara kita memberantasnya selama ini. Tapi saya rasa dengan sudah dipilih (Ketua KPK nanti), ya kan, ini memberi kesempatan kita untuk berharap ada perbaikan. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: